Musibah

oleh -

Oleh. Ust. Lathief Ab*

Negeri kita, Indonesia, berkali-kali dirundung bencana. Bencana yang paling dahsyat bahkan tercatat sebagi terbesar di dunia adalah Gempa Tsunami Aceh 2004, berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter dengan korban tewas lebih dari 230.000 jiwa. Tahun 2012 bencana gempa besar dialami saudara kita, di Lombok 500 lebih korban jiwa, 300rb mengungsi, 1000 lebih luka-luka. Tsunami Selat Sunda Banten awal tahun 2018 lebih 450 orang korban jiwa dan 7.000 orang luka.

Menurut catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sepanjang 2022 telah terjadi ribuan kali gempa dalam skala kecil hingga besar.

Gempa besar terkini berada disekitar kita, Gempa Cianjur 21 November 2022. 5,6 skala Richter. Menurut Laporan krisis global NC4 menyebutkan korban gempa cianjur; 268 orang tewas,151 orang belum ditemukan,10.83 orang luka. 58.362 orang diungsikan dan 22.198 bangun rusak.

Atas berbagai musibah tersebut, kita ucapkan istirj’a, “inna lillahi wa inna ilaihi raji”un- sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah pahala atas musibah kami ini dan gantilah mushibah itu dengan sesuatu yang lebih baik darinya “

Secara i’tiqadi, segala macam musibah yang terjadi pada alam maupun pada diri manusia berada dalam catatan taqdir pengetahuan dan kekuasaan Allah Swt.

Allah Swt berfirman, ” Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak (pula pada) dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (lawhul mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. sesunguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.“ ( Q.S. Al-Hadid : 22). Ayat yang semakna terdapat dalam Surat at-Taubah (9) :51.

Jika dilihat mengunakan kacamata sains, bencana alam tersebut merupakan suatu fenomena alam yang terjadi akibat adanya ketidakseimbangan ekosistem yang ada di bumi ini, baik itu diakibatkan oleh alam ataupun yang diakibatkan oleh manusia. Jika melihat menggunakan kacamata spiritual, maka musibah bencana alam tersebut bisa merupakan ujian atas keimanan teguran atas dosa, dan azab atas kekufuran dan kezaliman.

Secara sosial kita melihat berbagai musibah yang menimpa diri manusia atau alam, terdiri dari musibah natural, musibah kultural, dan musibah struktural.

Musibah natural yaitu musibah karena faktor alam, manusia mengetahuinya setelah terjadi, Musibah tersebut memaksa manusia untuk menerimanya. Sebagai contoh; wabah virus, gempa bumi, tsunami, angin tornado, kemarau, dll. Musibah tersebut merupakan ujian keimanan dan kesabaran bagi orang orang mukmin yang tertimpanya.


” Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada kamu berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila mereka tertimpa musibah. mereka mengucapkan Inna lillahi wainna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itulah yang mendapatkan berkah dan rahmat dari Tuhannya dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah : 155)

Musibah kultural adalah musibah yang terjadi karena kebiasaan buruk manusia. Kurang bersihnya lingkungan menimbulkan penyakit nyamuk malaria dan DBD, membuang sampah sembarangan, penggalian tambang dan penebangan pohon liar dapat mengakibatkan banjir dan longsor, semua itu adalah contoh peran kultur manusia yang mendatangkan berbagai musibah.

Jatuhnya nilai mata uang yang mengakibatkan mahalnya harga bahan pokok, naiknya harga BBM, sulitnya lapangan kerja, tingginya biaya pendidikan dan kesehatan, utang luar negeri yang membengkak, meningkatnya angka pengangguran dan keriminal. Penjajahan dan pembantaian seperti di Palestina, Suriah, Urghur dan Rohingya. Semua itu merupakan musibah yang diakibatkan oleh sistem hidup yang rusak yang tidak layak diterapkan ditengah-tengah manusia. oleh karenanya musibah terakhir ini disebut musibah struktural.

Musibah kultural (karakter buruk manusia) dan strukural (kebijakan sistem ) semua terjadi akibat peran dan ulah manusia.

“Telah nampak keruksakan di darat dan di laut akibat tangan-tangan (dosa dan maksiat ) mansia. Supaya mereka merasakan akibat perbuatan mereka. dan supaya mereka kembali kepada jalan yang benar “. (Q.S. Rum: 41).

Apapun musibah itu bentuknya, berapapun harta dan jiwa menjadi korban, semoga itu akan menumbuhkan keimanan manusia kepada Allah Swt, dan menyadarkan mereka bahwa semua yang ada di alam ini termasuk dirinya berada dalam genggaman kekuasaan Allah Swt. Kemudian manusia tunduk untuk hanya beribadah kepada-Nya, patuh atas syariah-Nya

  • Pengasuh Pondok Yatim dan Dhuafa Baitul Hamdi. Penulis buku “Kultum 100 Judul”