Hikmah Larangan Meniup Makanan dan Minuman Panas

oleh -

Oleh : Dr HC. Nursiami Rahmat Prihantoro. B.Sc. Med, M.Kes.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang bernafas di dalam gelas atau meniupi gelas (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Tinjauan medisnya adalah :

  • Saat kita bernapas menghirup oksigen atau O2, dan menghembuskan karbondioksida atau CO2. Ketika kita meniup makanan, tentunya yang dikeluarkan adalah gas CO2. Sementara itu makanan panas tadi masih mengeluarkan uap air (H2O). Menurut reaksi kimia, apabila uap air bereaksi dengan karbondioksida akan membentuk senyawa asam karbonat (carbonic acid) yang bersifat asam.
    H2O + CO2 => H2CO3
  • Perlu kita tahu bahwa didalam darah itu terdapat H2CO3 yang berguna untuk mengatur pH (tingkat keasaman) di dalam darah. Darah adalah Buffer (larutan yang dapat mempertahankan pH) dengan asam lemahnya berupa H2CO3 dan dengan basa konjugasinya berupa HCO3- sehingga darah memiliki pH sebesar 7,35 – 7,45 dengan reaksi sebagai berikut:
    CO2 + H20 HCO3- + H+
  • Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Adanya kelainan pada mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis.
    Asidosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah.
    Sedangkan Alkalosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah.
    Kembali lagi ke permasalahan awal, dimana makanan kita tiup, lalu karbondioksida dari mulut kita akan berikatan dengan uap air dari makanan dan menghasilkan asam karbonat yang akan mempengaruhi tingkat keasaman dalam darah kita sehingga akan menyebabkan suatu keadaan dimana darah kita akan menjadi lebih asam dari seharusnya sehingga pH dalam darah menurun, keadaan ini lebih dikenal dengan istilah asidosis.
  • Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida.
    Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.Tetapi kedua mekanisme tersebut tidak akan berguna jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan bahkan kematian.

Sedangkan dilihat dari kaca mata Islam, terdapat larangan Rasulullah SAW tentang meniup makanan dan minuman. Beberapa hadis dan keterangan ulama di bawah ini menjadi landasannya:
• Hilangnya Keberkahan. Menurut Imam as-Shafrawi (2002): “Rasulullah SAW tidak menyukai makanan panas dan pernah sekali beliau menyebutkan: ‘makanlah makanan yang sudah dingin, karena itu adalah obat dan ingatlah makanan panas tidak mempunyai berkah di dalamnya.’ Dalam narasi lain, beliau berkata: ‘meniup makanan akan menghilangkan barokah.”


• Mengubah rasa atau aroma dari minuman
• Memperlihatkan sifat terburu-buru, sedangkan itu adalah sifat setan
• Menunjukkan sifat serakah dan sifat-sifat buruk lainnya. Al-Munawi (1998) menjelaskan: “Rasulullah SAW melarang meniup minuman dan makanan, dan hal ini makruh, karena hal ini dapat mengubah aroma dari air,’ dan narasi dari Abi Sa’id al-Khudri juga menjelaskan bahwa larangan meniup makanan panas agar cepat dingin itu mengindikasikan sifat serakah dan tidak sabaran.”


• Menunjukkan sifat tidak sabaran, padahal sabar sebagian dari iman
• Menunjukkan sifat menjijikkan atau jorok
Dengan mengetahui hukum meniup makanan dan minuman beserta penjelasannya dari segi kesehatan, diharapkan umat Islam dapat menjalankannya dan mendapatkan hikmat saat mengerjakan salah satu sunnah Rasul ini.