Kang Fahmi Menyoroti Keberadaan Badut-badut Anak yang Ngamen di Lampu Merah

oleh -

Wartawan Ronald Alexsander
Editor Nabil

Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi, mulai angkat bicara tentang keberadaan badut-badut yang diperankan oleh anak-anak yang mengais rejeki di tempat berbahaya seperti di lampu merah. Mereka mengamen dan menari saat lampu merah mulai menyala, tanpa menghiraukan keselamatannya maupun pengemudi kendaraan yang melintas.

“Saya meminta kepada Dinas Sosial dan Sat Pol PP untuk menertibkan badut-badut yang biasa beroperasi di lampu merah yang diperankan anak-anak. Saya tegaskan, ini termasuk eksploitasi. Anak kecil ngamen itu eksploitasi atau bentuk lain dari kekerasan. Karena seusia itu tugasnya adalah sekolah bukan mencari nafkah,” kata Fahmi dalam acara Kampanye Aksi Pencegatan Kekerasan Perempuan dan Anak 2022, di Gedung Juang 45, Rabu (23/11/2022).

Dengan demikian kata Fahmi, yang penting dilakukan saat ini adalah bagaimana pemerintah memenuhi hak anak, menghormati pandangan anak dan melindungi anak berdasarkan regulasi yang di buat, baik undang-undang sampai peraturan yang ada bawahnya.

“Maka anak itu harusnya bersekolah di waktu usia sekolah dan bukan malah mencari nafkah. Apalagi Kota Sukabumi afalah satu -satunya kota yang memilki youth planner,” ungkapnya.

Pada bagian lain dia menjelaskan,
ada empat bentuk kekerasan yakni kekerasan fisik, seksual, psikis dan penelantaran atau eksploitasi. Kalau sifat fisik itu mudah diidentifikasi. Berbeda dengan kekerasan seksual.

“Saat ini berita tentang kekerasan seksual banyak berseliweran di media masa. Boleh jadi berita itu memancing terjadinya kasus-kasus lainnya. Dalam tanda kutip inspirasi bagi orang yang membacanya,” ungkap orang nor satu di Kota Sukabumi itu.

Maka hati-hati membaca media. Kekerasan psikis sama bahayanya. Terjadi pertengkaran dalam keluarga, secara psikis, anak dan ibunya menjadi korban,” tambahnya.