Beragama Tapi Bohong

oleh -

Oleh. Lathief Ab*

Aro-aitallazii yukazzibu bid-diin,Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” Demikian sebuah pertanyaan dalam ayat pertama Surat Al-Ma’un, Surat ke107 dalam al Qur’an. Mendustakan agama dalam bahasa anak sakarang, beragama tapi bohong.

Terjemah ayat lengkapnya sebagai beriukut; “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (QS. Al Ma’un (107):1-7)

Dalam surat Al Ma’un tersebut diungkapkan ada empat prilaku yang dianggap mendustai agama. Pertama. Orang yang suka menghardik anak yatim.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, asbabun nuzul surat Al-Ma’un ini adalah sehubungan dengan kebiasaan Abu Sofyan dan Abu Jahal yang setiap hari Ahad menyembelih unta. Suatu Ketika, ada seorang anak yatim datang meminta sedikit daging yang telah mereka sembelih itu. Namun bukannya diberi daging, Abu Jahal dan Abu Sofyan malah menghardik dan mengusir anak yatim tersebut.

Menghardik anak yatim berarti berkata kasar kepasanya, menghinanya, membentaknya, menelantarkannya, tidak peduli atas kelemahan dan kekuarangannya. Anak yatim tidak memiliki ayah yang menafkahi dan tempat mengadu.

Nabi SAW bersabda, “jika anak yatim menangis maka goncanglah ‘Arasy, dikatakan: Wahai Jibril luaskanlah neraka bagi siapapun orang yang membuat tangis anak yatim (menyakitinya) dan perluaslah surga bagi siapapun yang membuat anak yatim tersenyum”. (Kitab Washiyatul Musthafa)

Kedua. Orang yang dianggap mendustakan agama adalah orang yang tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Banyak orang kaya hidup penuh hedonis dan hura-hura. Banyak para penguasa menjabat untuk memperkaya diri. Sementara mayoritas rakyat dalam keadaan sengasara. Mereka membuat kebijakan yang menguras rakyat hingga rakyat kian menderita.

Nabi SAW memperingatkan, “Tidak mengimaniku dengan sempurna orang yang bermalam dalam kondisi kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sisinya dan ia mengetahuinya.” (HR ath-Thabarani dan al-Bazzar)

Ketiga, Pendusta agama yaitu orang yang tidak serius dalam ibadah, bahkan ibadahnya mengantarkan pada neraka. Seperti dalam mendirikan shalat. Pertama shalatnya sahun, lalai; tidak mau shalat, kadang-kaadang shalat, rajin shalat tapi semaunya gak peduli syatrat rukun, sah tidaknya. Ada juga yang shalatnya rajin tapi tidak mempengaruhi prilaku kesehariannya. Shalat tidak pernah terlewatkan namun koruspi dijalani, judi dilakoni, menipu jadi pekerjaan dan berbohong menjadi kebiasaan. Itulah orang yang shalatnya sahun, lalai. Kedua, ibadahnya selalu ingin dilihat orang, berharap pujian, ingin viral biar terkenal.

Prilaku yang dianggap mendustakan agama yang keempat adalalah enggan menolong sesama dengan sesuatu yang berguna. Memiliki sifat kikir, egois dan individualis. Tidak mau berbagi kebaikan, enggan memberi manfaat pada orang lain.

Padahal Nabi SAW bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani).

Semoga kita diberi taufiq oleh Allah agar kita selalu peduli kepada lingkungan, memberi manfaat kepada sesama. Disamping itu senantisa kita diberi kekhusuan dalam beribadah. Sehingga kita dijauhkan dari sifat orang yang mendustaka agama.

*Pengasuh Pondok Baitul Hamdi