Manusia Merdeka

oleh -

Oleh: Lathief Ab

Bangsa Indonesia telah memasuki HUT ke 77. Usia yang cukup lanjut jika di-nisbah-kan dengan usia manusia. Perlu menjadi bahan renungan bagi kita. Apakah di era kemerdekaan yang sudah lebih dari setengah abad ini, kita telah menjadi manusia yang benar-benar merdeka ataukah sebenarnya kita masih menjadi manusia yang terjajah? Lalu apa makna hakikat manusia merdeka itu?

Hakikat merdeka dapat kita perhatikan dari dialog berkelas antara utusan Islam bernama Rib’i bin Amir dengan raja Persia bernama Rustum yang direkam dalam kitab Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, II/401.

Saat itu, Raja Rustum yang duduk di singgasana dengan segala perhiasan dari emas permata, bertanya kepada Rib’i bin Amir, apa misi yang dibawa oleh agama Islam. Rib’i bin Amir menjelaskan, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”

Dari dialog di atas dapat ditarik kesimpulan hakikat manusia merdeka sebagai berikut;

Pertama. Manusia merdeka adalah yang terbebas dari penyembahan kepada Tuhan selain Allah SWT. Dengan kata lain manusia merdeka adalah manusia bertauhid, hanya menyembah Allah semata. “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

Ketika manusia tidak menjadikan Allah sebagai Tuhanya, sebagai sembahannya, maka dia akan bertuhan dan menyembah kepada sesama mahluk bahkan lebih rendah darinya. Ada yang menyebah alam; matahari, bulan, bintang. Menyembah jin, hewan bahkan pada benda-benda mati. Manusia merdeka adalah manusia yang telah mengucapkan kalimat tauhid ” La Ilaha Illallah,Tiada Tuhan yang berhak disemabh selain Allah SWT.

Maka mereka yang menyembah selain Allah terbelenggu secara teologis oleh mahluk lainnya. ”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al Baqarah [2] : 21-22).

Kedua. Manusia merdeka adalah yang terbebas dari belenggu manusia lain.
Diantara manusia ada yang tamak dan rakus. Untuk memenuhi hasratnya muncul penjajahan satu manusia atas manusia lainnya, satu bangsa atas bangsa lainnya. Mereka melakukan kejahatan, penindasan dan kedzaliman. Mereka membuat sistem yang melahirkan dehumanisasi. Manusia yang satu menjadi budak atas manusia yang lainya, bangsa yang satu menjadi jajahan bangsa lainnya. Dalam sejarah manusia, Idiologi Komunisme dan Kapitalisme telah melahirkan penindasan manusia atas manusia lainya.

Allah SWT berfirman, “Bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’” (QS. Ali ‘Imraan(3): 64)

Ketiga. Manusia merdeka adalah yang menjadikan syariat sebagi pengatur hidupnya. Manusia membutuhkan nidzamul hayat, aturan hidup. Segala yang mengatur manusia disebut dengan syariat. Namun jika aturan itu datang dari manusia maka sama saja dengan manusia menghamba kepada manusia lain.

Dalam hal ini Al Qur’an menegaskan, “Mereka (Bani Israil) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. (QS. At-Taubah [9]: 31).

Ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah SAW, Adi bin Hatim mengatakan bahwa Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah para pendeta dan para rahib mereka. Saat itulah Rasul SAW bersabda, “Akan tetapi, jika para rahib dan pendeta mereka menghalalkan sesuatu untuk mereka maka mereka pun menghalalkannya, dan jika para rahib dan pendeta mereka mengharamkan sesuatu atas mereka maka mereka pun mengharamkannya. Itulah wujud penyembahan mereka kepada para rahib dan pendeta mereka” (HR. At-Tirmidzi).

Oleh karenanya, Manusia merdeka hanya tunduk pada syariat yang datang dari Allah SWT, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka (QS.al-Ahzab/33: 36)

“ Dan apa yang diberikan Rasul (Shallallahu ‘alaihi wasallam) kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah ” ( QS. Al-Hasyr: 7 )

Keempat. Manusia merdeka adalah manusia yang terbebas dari belenggu hawa nafsu. Saat manusia memenuhi segala hasrat hawa nafsunya yang tidak akan pernah puas dan tak pernah kenyang, maka saat itulah dia belum merdeka, ia dijajah dan dikendalikan oleh hawa nafsunya. Prilaku hidupnya layaknya seperti binatang. “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”(QS. Al-Furqan (25): 43).

Kelima. Manusia merdeka adalah yang terbebas dari belenggu dunia dan menjadikan akhirat sebagi tujuan. Manusia tinggal semetara di dunia. Selanjutnya akan beralih pada alam akhirat, alam abadi. Jika manusia lupa tujuan perjalan hidup. Dunia telah melalaikannya. Tidak menjadikan dunia sebagai sarana ibadah kepada Allah sebagai bekal menuju akhirat maka hakikatnya dia dijajah oleh dunia.

Allah SWT memaklumkan, “Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (QS.An Naazi’aat: 37-41).

Nabi SAW mengingatkan, “Demi Allâh! Dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan salah satu jemarinya ke laut” (HR. Muslim)