DUA GOLONGAN PENABUNG API NERAKA

oleh -

Oleh: Lathief Ab

Ada dua golongan yang menabung api neraka dalam perut mereka. Al Qur’an menyebutkan dalam dua ayat, surat al Baqarah ayat 74 dan surat an Nisa ayat 10 “Ma fi buthu nihim illan nara, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya” Siapa mereka itu?

Golongan pertama; ‘Yasytaruna bihi tsamanan qalila’; mereka yg menjual belikan agama demi meraih dunia.

Allah Swt. Berfirman, “Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.” (Q.S. Al-Baqarah: 174)

Yaitu dengan membuat-buat dalil palsu atau menyembunyikan dalil yang benar dengan itu mereka meraih harta dan jabatan (shafwatut tafasir 1:115).

Tentu ini terjadi pada kalangan ulama, yang mengerti ilmu-ilmu agama. Namun kecintaan pada dunia mengalahkan keimanannya. Mereka mengelurkan fatwa sesuai permintaan dan berpendapat sesuai pendapatan.

Dalam kontek Jelang pemilu misalnya, ada ulama, kiyai, ustadz dibeli suaranya untuk mendapat pengaruh dari umatnya. Tak lagi memperhatikan siapa orangnya, apa visi misinya, yang penting siapa yang besar amplopnya. Itulah ulama su’, ulama buruk. Nabi Saw bersabda,

“Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’; mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu.” (H.R Al-Hakim).

Menurut adz-Dzhabi dalam kitab yg Sayr al-A’lam an-Nubala’, ulama su’ adalah ulama yang mempercantik kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa; ulama yang memutarbalikan kebatilan menjadi kebenaran untuk penguasa; atau ulama yang diam saja (di hadapan penguasa) padahal ia mampu menjelaskan kebenaran.

“Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah mereka.” (H.R Al-Hakim).

Golongan kedua. Ya’kuluna amwalal yatim dzulman, mereka yang memakan harta anak yatim secara dzalim.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 10)

Mengurus anak yatim sangat besar pahalanya. Mengasuh mereka sebagai pengganti orang tua mereka, menafkahi mereka jika mereka miskin. Orang yang peduli anak yatim kelak akan menjadi tetangga dekat Nabi.

Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi Saw, beliau bersabda : “Saya dan orang yang mencukupi anak yatim di dalam sorga seperti ini”, beliau berisyarat dengan dua jari beliau, jari telunjuk dan jari tengah. (H.R Bukhâri)

Namun jangan sampai kita memakan harta anak yatim jika mereka memiliki harta baik dari warisan atau sadaqah. Jika karena mengurusnya kita tidak bisa mencari nafkah, maka boleh ikut mangambil harta mereka sesuai dengan kebutuhan. Bila sudah dewasa harta mereka wajib diserahkan (Shafwatut tafasir 1:260l )

Termasuk memakan harta anak yatim dengan tidak menyalurkan bagian hak mereka dari negara, menyunat bagian mereka. Mengeksploitasi mereka untuk memperkaya diri seperti banyak terjadi di zaman ini. Anak-anak yatim menjadi pengemis, peminta-minta, menawarkan proposal dsb, hasilnya dinikamati dibuat berfoya – foya oleh pengelolanya.