Mengambil Ibrah dari Sang Khalilullah

oleh -

Oleh. Ust. Lathief Ab

Berbicara Idul Adha, atau biasa disebut Idul Qurban, Maka Umat Islam diingatkan kepada sosok Nabi Ibrahim, Sang Khalilullah (kekasih Allah), Abul Anbiya (bapaknya para nabi). Nabi Ibrahim telah memberikan banyak ibrah atau suri teladan bagi manusia. Disebutkan dalam Alquran0l; Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim. (QS. Al-Mumtahanah : 4)

Setidaknya ada tiga pelajaran berharga dari keteladan Sang Khalilullah, Nabi Ibahim AS;

Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim memberi contoh kesabaran, saat menghadapi berbagai ujian. Dalam perjalanan hidupnya, Nabi Ibrahim mendapati beragam ujian. Ujian pertama diusir oleh ayahnya, Azar. Karena antara mereka berbeda keyakinan dan kepentingan. Keyakinan ayahnya beraliran politeisme, syirik, meyakini banyak tuhan.

Sedangkan di kutub berlawanan Nabi Ibrahim menganut monoteisme, tauhid, hanya satu tuhan yaitu Allah SWT. Ayahnya punya kepentingan ekonomi, ia produsen terkenal patung untuk disembah. Sebaliknya puteranya nabi Ibrahim membawa misi untuk menghancurkan patung-patung sembahan, agar manusia hanya menyembah Allah semata.

Akhirnya, Nabi Ibrahim diusir oleh orangtuanya. Sebagaimana dikisahkan dalam Qur’an. “(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 52). “Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (QS. Maryam 19: Ayat 46)

Setelah mendapat penentangan dari ayahnya dan pengikutnya dan berakhir dengan pengusiran terhadap dirinya, Nabi Ibrahim menghadapi ujian kedua yang lebih berat, ia dihukum oleh Namrud, rezim syirik dan dzalim. Ibrahim menentang berbagai kezaliman yang dilakukan oleh penguasa Namrud, membongkar kekeliruan idiologi politeisme, menyembah banyak tuhan yang mejadi dasar nagara.

Ibrahim pun divonis dengan hukum berat yaitu dibakar hidup -hidup. “Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah Tuhan-Tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.””
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 68). Walau berakhir dengan keselamatan karena api itu tidak mampuh membakarnya. Sebagai mukjizat dari Allah kepadanya. Allah berfirman, “Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim,” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 69)

Setelah melewati dua ujian berat. Datanglah ujian ketiga, dimana Ibrahim diperintahkan mengurbankan putra kesayangannya yang ia tunggu lama kehadiranya. Ibrahim dan anaknya pun rela dan ikhlas siap melaksanakan perintah Allah Swt. “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”(QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

Semua ujian itu dijalani oleh Ibrahim dengan penuh kesabaran dan ketawakalan kepada Allah SWT. Sabar dan Tawakal merupakan buah kekuatan keimanan ketauhidan kepada Allah SWT. Pelajaran kedua. Nabi Ibrahim memberikan contoh, kecintaannya kepada Allah melebihi keencintaan pada selain-Nya

Puncak kecintaan orang-orang beriman hanyalah kepada Allah, Rabbul alamin, Maha Pencipta alam semesta, Maha Pengatur seluruh mahluk. “Orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah. (Q.S. Al Baqarah :165). Kecintaan kepada Allah mesti mengesampingkan egoisme, kepentingan dan keinginan pribadi, bahkan mengalahakan sesuatu yang paling kita cintai.

Sebagaimana Nabi Ibrahim siap mengorbankan anak yang telah ia tunggu kehadirannya selama100 tahun. Demikian Ismail anaknya juga istrinya rela menerimanya. Semua semata untuk taat kepada Allah, karena cinta mereka kepada Allah Sang Maha Pemilik segalanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR.Bukhari Muslim)

Pelajaran ketiga. Nabi Ibrahim mengajarkan akan ketundukam secara total terhadap syari’at Allah. Sebagian kita ada yang merasa berat ketika aturan syari’at berbeda dengan kehendak. Sebagian lagi ada yang memilah-milih syari’at sesuai dengan keinginan. Jika ada untungnya, ada uangnya mereka tegakan peraturannya. Jika dipandang merugikan kedudukan dan kekuasaan, tak malu mereka sebut syari’at itu membahayakan hingga tuduhan ekstrim dan radikal. Padahal merasa berat dihukumi syar’iat, memilah milih aturan syari’at bukanlah sikap seorang muslim tapi mental orang munafik dan orang kafir.

Muslim yang benar adalah menerima Islam secara kaffah, totalitas utuh dan menyeluruh. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Nabi Ibrahim telah mengajarkan tentang ketaatan totalitas tanpa kecuali. Walau bertentangan dengan aspirasi, tak sesuai dengan selera, bahkan dipandang oleh akal manusia suatu irasional. Namun jika itu perintah Allah, samina wa atha’na, kami degar kami laksanakan. Ibrahim tidak protes kepada Allah, Why?. Mengapa Egkau memerintahkan menyembelih anakku?, bukankah itu bertentanan dengan hak asasi manusia?. Ibrahim sama sekali tidak mempertanyakan itu kepada Allah. Karena memang sejatinya manusia tidak layak menggugat apa diperbuat Allah Maha Pencipta. Perbuatan manusialah yang akan dipertanyakan. Apakah mengikuti perintah Allah atau membangkang-Nya. ” Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (QS. Al-Anbiya : 23)