IDUL ADHA ; SPIRIT TAUHID, DAN KEMANUSIAAN

oleh -

Oleh. Lathief Abdallah

Rangkaian ibadah di hari Iedul adha terutama Ibadah haji dan Qurban tak lepas dari tapak sejarah Abul anbiya Ibrahim AS dan keluaraganya. Keluarga yang kokoh di atas tauhid dan heroik dalam perjuangan. Karena ibadah haji dan qurban mengandung spirit tauhid, spirit kemanusian.

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan Keluarganya) ada teladan yang baik bagimu.” (Al-Mumtahanah : 6)

Keajaiban alam semesta keunikan manusia dan kehidupannya menunjukan ada ke-Mahahebatan Sang Pencipta yakni Allah Saw.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190)

Seluruh sumber daya alam yang dibutuhkan dan dinikmati oleh manusia telah dipersiapkan oleh Allah SWT. Oleh karenanya syukur dan persembahan hanya layak ditujukan pada Allah SWT semata.

 “ Sungguh kami telah memberimu nikmat yang banyak, maka laksanakan sholat kepada Tuhanmu dan berkorbanlah”
(Al-Kautsar 1-3)

Dari sinilah secara fundamental Islam menetang faham atheisme Komunisme yang tidak meyakini adanya Tuhan dan menolak keberadaan agama.

Saat ibadah haji ke baitullah, dengan spirit tauhid seluruh manusia dari berbagai penjuru bumi, beragam bangsa, suku, warna dan bahasa menyatu bersama tanpa dibedakan satu sama lain. Semua adalah hamba – hamba di hadapan Allah Yang Maha Esa

“Dan serulah manusia, wahai Ibrahim, untuk mengerjakan haji mengunjungi Baitullah guna melaksanakan rangkaian manasik haji setelah engkau meninggikan fondasi Kabah dan membebaskannya dari kemusyrikan, niscaya mereka akan datang kepada seruan-mu sesuai kemampuannya, dengan berjalan kaki bagi yang berjarak dekat, atau mengendarai setiap kuda atau unta yang kurus, karena jauhnya perjalanan menuju Kakbah hingga kehabisan bekal. Mereka datang untuk menunaikan ibadah haji dari segenap penjuru dunia, baik yang dekat maupun yang jauh. (QS. Alhajj (22): 27)

” Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” ” ( Q.S. Ali Imran (3):96-97)

Hal ini menunjukkan Islam telah selesai membahas soal Ras. Dimana di era modern ini kita menyaksikan soal ras mengemuka saat seorang warga kulit hitam bernama George Floyd tewas dengan tragis di tangan polisi berkulit putih. Kejadian tersebut menggerakan aksi terbesar hampir di sleuruh kota AS tahun 2020. Dan ini bukan yg pertama warga kulit hitam mendapatkan diskriminasi di negara yang mengklaim sebagai kampium Demokrasi Dan HAM.

Lebih aneh lagi aneh lagi prilaku rasis di India. Mereka lebih mensucikan dan memuliakqn seekor sapi betina namun tanpa nurani mereka menista, menghina dan melakukan kekerasan dan diskriminasi kepada muslim karena beda agama.

Jauh sebelum Dunia Barat mendeklarasikan apa yg disebut Declaration of Human Rights (deklarasi hak-hak asasi manusia) Th 1448 di Viena. Islam agama yang mulia telah menghapus dan mengharamkan rasisme tersebut di muka bumi ini. Semua orang pada asalnya sama kedudukannya dan memiliki hak-hak dasar kemanusiaan yang sama serta tidak boleh dibedakan, satu di istimewakan dan satu lagi dihinakan hanya karena alasan perbedaan suku, ras, bangsa semata. Islam menyebut rasisme sebagai peradaban jahilayah.

Hai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Mahatahu lagi Mahateliti (TQS al-Hujurat [49]: 13).

Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang ‘Arab atas orang ‘Ajam (non-‘Arab), tidak pula orang ‘Ajam atas orang ‘Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketaqwaan.” ( HR. Ahmad)