Naik Sepeda ke Mekah

oleh -

Oleh; Lathief Ab

Haji dan umrah ke Baitullah, kota Mekah Almukarramah merupakan kewajiban bagi setiap muslim sekali dalam seumur hidup. Hanya saja kewajiban tersebut dibebankan kepada yang memiliki istitha’ah (kemampuan). Karena itu tidak semua umat Islam dapat melaksanakannnya.

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (Q.S. Ali ‘Imran: 97).

Pengertian istitha’ah dalam kitab Fiqhus sunnah jilid 1 hal 531, Sayyid Sabiq menjelaskan; Pertama, memiliki bekal baik selama perjalan pulang pergi juga bekal untuk keluarga selama ditinggalkan. Kedua, badan yang sehat. Bagi yang sakit dan secara medis tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah haji tidak termasuk istitha’ah. Ketiga, ada kendaraan yang bisa mengantarkan. Tentu ini bagi mereka yang jauh yang tidak mungkin dengan jalan kaki. Keempat. Kondisi dalam perjalanan aman baik dari kejahatan atau dari wabah.

Karena kondisi tidak aman di musim pandemi Covid19 2020/2021 pemerintah Saudi menunda hingga dua tahun pelaksanaan ibadah haji.

Untuk konteks saat ini quota haji menentukan jadwal tunggu keberangkatan sesorang. Di suatu daerah atau negara ada yang daftar tunggu 20 hingga 30 thn.

Bagaimana jika ada orang yang sangat ingin ke Baitullah dengan cara memaksakan diri untuk sampai ke Makah sedang ia tidak memenuhi standar istitho’ah dari beberapa sisi. Seperti apa yang dilakukan oleh Uwes al Qarni, orang Yaman yang hidup semasa nabi namun tak sempat bertemu dengan beliau. Ia menggendong ibunya yang lumpuh dari Yaman ke Mekah dengan jarak 1019 km.

Hal yang sama dilakukan oleh Muhamad Khamim pemuda asal Magelang tahun 2015-2016. Ia berjalan kaki menempuh jarak ke Makah -+ 9000 km dengan waktu perjalanan satu tahun. Juga terkini tahun 2022 Fauzan dari Pekalongan pergi ke Baitullah dengan berkendaraan sepeda memakan waktu 7,5 bulan.

Mereka yang berusaha untuk pergi ke haji dalam kondisi tidak istitha’ah hanya karena motivasi spiritual yang kuat, menurut al Imam Syeikhul Islam Abdullah Al Alawi Al Hadad dalam kitab Nashihud Diniyah hal.188, adalah merupakan bentuk dari keimanan mereka yang sempurna, imanuhum akmalu, dan pahala mereka yang lebih besar, tsawabuhu a’dzamu.

Selama tidak mengabaikan hak-hak Allah, tidak mengantarkan bahaya pada dirinya dan tidak menelantarkan hak yang ditanggungnya.

Moga saudara yang telah menunaikan ibadah haji dengan berbagai cara untuk sampai ke Baitullah, menjadi haji yang mabrur dan maqbul di sisi Allah Swt.