๐˜ผ๐˜ฟ๐˜ผ๐˜ฝ ๐˜ผ๐˜ฟ๐˜ผ๐˜ฝ ๐™Ž๐˜ผ๐˜ผ๐™ ๐™ˆ๐™๐™Ž๐™‡๐™„๐™ˆ ๐™Ž๐˜ผ๐™†๐™„๐™

oleh -

๐˜‹๐˜ณ ๐˜๐˜Š. ๐˜•๐˜ถ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜™๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜—๐˜ณ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฐ. ๐˜‰.๐˜š๐˜ค. ๐˜”,๐˜’๐˜ฆ๐˜ด

Di antara adab-adab tersebut ialah sebagai berikut :

  1. Sabar dan ridha atas ketentuan Allah Subhanahu wa taโ€™ala, serta berbaik sangka kepada-Nya.

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu โ€˜anhu, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:
โ€œSungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.โ€ (HR. Muslim)

Dari Jabir radhiyallahu โ€˜anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:
โ€œJanganlah salah seorang di antara kalian itu mati kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa taโ€™ala.โ€ (HR. Muslim)
 

  1. Berobat dengan cara-cara yang sunnah atau mubah dan tidak bertentangan dengan syariat.
    Diriwayatkan dari Abu Darda` radhiyallahu โ€˜anhu secara marfuโ€™:

โ€œSesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.โ€ (HR. Ad-Daulabi)

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu bahwa Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:
โ€œTidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.โ€ (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu โ€˜anhu)

Diantara bentuk pengobatan yang sunnah adalah:
a. Madu dan berbekam
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma bahwa Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:
โ€œObat itu ada pada tiga hal: minum madu, goresan bekam, dan kay dengan api, namun aku melarang kay.โ€ (HR. Al-Bukhari)
1 Besi dibakar, lalu ditempelkan pada urat yang sakit.
Dalam riwayat lain: โ€œAku tidak senang berobat dengan kay.โ€

b. Al-Habbatus sauda(jintan hitam) Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu โ€˜anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda: โ€œAl-Habbatus Sauda (jintan hitam) adalah obat untuk segala penyakit, kecuali kematian.โ€ (HR. Ath-Thabarani)

c. Kurma โ€˜ajwa
Dari Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, dari Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam:
โ€œPada kurma โ€˜ajwah โ€˜Aliyah yang dimakan pada awal pagi (sebelum makan yang lain) adalah obat bagi semua sihir atau racun.โ€ (HR. Ahmad)

d. Ruqyah
Yaitu membacakan surat atau ayat-ayat Al-Qurโ€™an atau doa-doa yang tidak mengandung kesyirikan, kepada orang yang sakit. Bisa dilakukan sendiri maupun oleh orang lain.
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:
โ€œDan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.โ€ (Al-Isra: 82)

Asy-Syaikh As-Saโ€™di rahimahullahu dalam tafsirnya berkata: โ€œAl-Quran itu mengandung syifa (obat) dan rahmat. Namun kandungan tersebut tidak berlaku untuk setiap orang, hanya bagi orang yang beriman dengannya, yang membenarkan ayat-ayat-Nya, dan mengilmuinya. Adapun orang-orang yang zalim, yang tidak membenarkannya atau tidak beramal dengannya, maka Al-Quran tidak akan menambahkan kepada mereka kecuali kerugian. Dan dengan Al-Quran berarti telah tegak hujjah atas mereka.โ€

Obat (syifa) yang terkandung dalam Al-Quran bersifat umum. Bagi hati/ jiwa, Al-Qur`an adalah obat dari penyakit syubhat, kejahilan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan niat yang jelek. Sedangkan bagi jasmani, dia merupakan obat dari berbagai sakit dan penyakit.

Dari Abu Abdillah Utsman bin Abil โ€˜Ash radhiyallahu โ€˜anhu:
Dia mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tentang rasa sakit yang ada pada dirinya. Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepadanya: โ€œLetakkanlah tanganmu di atas tempat yang sakit dari tubuhmu, lalu bacalah: ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู (tiga kali), kemudian bacalah tujuh kali:
โ€˜Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkanโ€™.โ€ (HR. Muslim)

Dari Aisyah radhiyallahu โ€˜anha bahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjenguk sebagian keluarganya (yang sakit) lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil membaca:
โ€œYa Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.โ€ (Muttafaqun โ€˜alaih)

Atau berobat dengan cara-cara yang mubah, misalkan berobat ke dokter atau orang lain yang memiliki keahlian dalam pengobatan seperti ramuan, refleksi, akupunktur, dan sebagainya.
Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara-cara perdukunan semacam mantera yang mengandung unsur syirik, atau rajah-rajah yang tidak diketahui maknanya, maka haram hukumnya, dan bisa menyebabkan seseorang keluar (murtad) dari Islam.

Dari Muโ€™awiyah ibnul Hakam radhiyallahu โ€˜anhu, dia berkata: Aku berkata:
โ€œWahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan masa jahiliah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun.โ€ Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda: โ€œJanganlah engkau mendatangi mereka (para dukun).โ€ (HR. Muslim)

Dari Shafiyyah binti Abi โ€˜Ubaid, dari sebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:
โ€œBarangsiapa mendatangi peramal, kemudian dia bertanya kepadanya tentang sesuatu lalu dia membenarkannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.โ€ (HR. Muslim)

  1. Bila sakitnya bertambah parah atau tidak kunjung sembuh, tidak diperbolehkan mengharapkan kematian.
    Dari Anas radhiyallahu โ€˜anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:
    โ€œJanganlah salah seorang kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang harus melakukannya, maka hendaknya dia berdoa:
    โ€˜Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan itu adalah kebaikan bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian itu adalah kebaikan bagikuโ€™.โ€ (Muttafaqun โ€˜alaih)
  2. Apabila dirinya mempunyai kewajiban (seperti hutang, pinjaman, dll), atau amanah yang belum dia tunaikan, atau kezaliman terhadap hak orang lain yang dia lakukan, hendaknya dia bersegera menyelesaikannya.
    Bila tidak memungkinkan, karena jauh tempatnya, atau belum ada kemampuan, atau sebab lainnya, hendaknya dia berwasiat (kepada ahli warisnya) dalam perkara tersebut.
    Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:
    โ€œDan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.โ€ (Al-Mu`minun: 8)
    Dari Abu Huraiah radhiyallahu โ€˜anhu, dari Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, beliau bersabda:
    โ€œBarangsiapa berbuat kezaliman terhadap saudaranya, baik pada harga dirinya atau sesuatu yang lain, hendaknya dia minta agar saudaranya itu menghalalkannya (memaafkannya) pada hari ini, sebelum (datangnya hari) yang tidak ada dinar maupun dirham.

Apabila dia memiliki amal shalih, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (lalu diberikan kepada yang dizaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.โ€ (HR. Al-Bukhari)