TABAYYUN;  SARING QOBLA SHARING

oleh -

Tabayyun bermakna mencari kejelasan atas sebuah berita. Hal ini merupakan panduan Islam sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an, “Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. (QS. al-Hujurât (49) :6).

Di era teknologi informasi terutama yang berbasis internet pada waktu singkat segala berita apapun dapat diakses oleh siapapun. Dalam hitungan menit, berita baik maupun buruk akan cepat menjadi viral di berbagai media. Oleh karenanya seorang pengakses berita mesti menyeleksi ketat dan melakukan klarifikasi atas berita yang diterimanya apalagi yang berkaitan dengan publik. Terlebih di Indonesia ada UUITE yang sudah banyak andil menyesakkan penjara.

Islam sebagai ajaran yang menjunjung tinggi kebersihan ahlak telah mengajarkan panduan dalam menerima berita. Pertama. Tidak semua berita mesti dibaca dan ditanggapi. Berita tak bermanfaat baik untuk informasi maupun edukasi, apalagi mengandung fitnah, rekaan yang disebut hoax mesti dihindari. Nabi saw. bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan pendusta bila selalu membicarakan setiap yang ia dengar”.   (HR.Muslim).

Dalam pergaulan medsos tidak selalu setiap status berita  langsung dilike, dikomentari apalagi dishare. Jika suatu dusta, fitnah atau hoax  tersebar,  tersebar pula dosa bahkan dosa yang berlipat ganda.

Kedua. Bila mendapat berita yang dianggap penting, heboh atau menggegerkan, mestilah melakukan penelitian dengan seksama. Apalagi berkaitan dengan orang lain atau publik. Itulah yang disebut dengan tabayyun, yakni meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an di atas yang artinya, “Apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, .” (Q.S. Al Hujurat : 6).

Ayat di atas pun berkaitan dengan kesalahpahaman seorang sahabat bernama Walid bin Utbah. Dia diutus Rasulullah kepada Bani Mustaliq untuk memungut zakat mereka.  Bani Musthaliq dahulu pernah menjadi musuh kaumnya semasa Jahiliah.

Saat itu Bani musthaliq berjejer di jalan bermaksud menyambut utusan Rasul dengan harta zakat yang sudah mereka siapkan. Namun belum sampai ke tujuan, dengan membawa perasaan masa lalu, Walid bin Utbah dari kejauhan, sudah curiga dan menyimpulkan bahwa Bani Musthaliq sedang siap-siap menghadangnya.

Dia pun kembali untuk melapor kepada Rasulullah atas dugaan itu. Hampir saja, Rasulullah meresponnya dengan mengirim pasukan jika tidak ada yang segera datang utusan Bani Musthaliq yang menjelaskan duduk perkaranya.

Tabayyun mesti menjadi budaya masyarakat.  Karena faktanya ada orang atau kelompok sengaja menebar berita hoax,  fitnah dan provokasi. Ada masyarakat yang mudah menerima setiap informasi tanpa teliti dan juga senang berbagi. Maka akibat tidak  bertabayyun banyak yang dirugikan. Penyebarnya mengalami penyesalan karena akan mendapat sanksi dan ada yang terdzalimi padahal ia orang bersih dan mulia.

Dalam sirah Nabawi, pernah terjadi peristiwa fitnah keji yang disebut Hadtisul Ifki (berita hoax) terhadap orang mulia Ummul mu’minin Aisyah ra, istri Nabi . Tersebar berita yang dibuat oleh orang-orang munafik, bahwa beliau telah melakukan perselingkuhan dan berita itu ditelan habis oleh sebagian besar masyarakat saat itu yang lemah iman dan akal. Membuat Nabi dan kelurganya merasakan beban berat, mengalami goncangan hebat, sampai diturunkannya surat Annur yang membebaskan istri beliau dari  tuduhan keji tersebut. Juga menjelaskan hukuman keras bagi para pendusta dan penyebarnya.

Berapa banyak keluarga jadi pisah, persahabatan jadi retak, organisasi jadi pecah. Bahkan antar kampung, suku, mungkin saja negara jadi perang hanya karena berseliwernya berita hoax yang diterima tanp