MERAIH HAJI MABRUR

oleh -

Oleh. Lathief Abdallah

Alhamdulillah, setelah dua tahun pelaksanan haji ditunda akibat pandemi, tahun ini kembali dilaksanaakan. Kaum muslimin menyambut gembira terutama mereka yang sudah masuk jadwal pemberangkatan tahun ini.

Ibadah haji termasuk gabungan ibadah badaniyah dan maliyah, yakni ibadah yang mengunakan aspek badan dan harta. Allah Swt. berfirman, “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (Q.S. Ali ‘Imran: 97)

Dalam kitab Fiqhus Sunnah jilid 1 hal 530 dijelaskan makna Istitha’ah (mampu), yaitu meliputi : Badan sehat, ada biaya, tersedia kendaraan, dan keadaan negara aman. Untuk saat ini, masuk kuota juga menjadi penentu keberangkatatan haji.

Motivasi haji agar meraih gelar haji mabrur dimana balasannya langsung dijanjikan surga. Disebutkan dalam hadits Nabi saw., “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (H.R. Bukhari).

Hanya saja haji mabrur bukanlah gelar klaim sendiri, bisa dibeli, atau sematan dari manusia, bukan pula pemberian penyelenggara. Haji mabrur hanya gelar dari sisi Allah Swt.

Bila membaca berbagai pendapat, setidaknya ada empat faktor yang menjadikan haji itu bernilai mabrur.

Pertama Ikhlas. Semua ibadah termasuk haji mesti diniatkan hanya karena Allah Swt. Tidak mencari prestasi dan prestise selain mengharap Ridha Allah Swt. “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua. Biaya dari harta halal. Biaya yang digunakan untuk haji mesti dari sumber yang halal. Setiap ibadah harta yang berasal dari yang haram tidak akan diterima disisi Allah Swt. “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik).“ (HR. Muslim) “Jika seseorang melakukan haji dengan harta yang tidak halal, lalu dia talbiyah ‘labbaika wa la sa’daika’, maka Allah menjawab: Tidak ada ‘labbaika wa la sa’daika’, hajinya ditolak” (HR Ibnu Adi, Dailami dan al-Bazzar)

Paara ulama berkata, “Maka bila seseorang berhaji dengan harta syubhat atau harta hasil ghasab (curian, korupsi) maka secara zahir hajinya sah tetapi dia berdosa dan tidak meraih haji mabrur. Demikian pendapat Imam Syafi’i ,Imam Malik, Abu Hanifah dan jumhur ulama salaf dan khalaf _”(Al Mausu’ah al Fiqhiyyah jilid 17 hal 131)

Ketiga. Memenuhi pelaksanaan manasik haji. Berhaji bukan hanya berkunjung ke baitullah baik tujuan untuk wisata atau studi banding. Tapi mesti melaksanakan prasyarat dan sekumpulan kegiatan, yakni syarat wajib Haji, rukun haji dan wajib haji yang disebut manasik.“Ambillah dariku manasik-manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, mungkin saja aku tidak berhaji setelah hajiku ini”.(HR. Muslim).

Syarat Wajib Haji adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sehingga dia diwajibkan untuk melaksanakan haji. Yaitu; Islam, Berakal, Baligh, Merdeka dan Mampu. Rukun Haji. Adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji, dan jika tidak dikerjakan hajinya tidak sah. Yaitu; Ihram, Wukuf, Tawaf Ifadah, Sa’i, Tahallul,Sa’i dan Tertib

Wajib Haji adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda). Yaitu; Niat Ihram, Mabit, Melontar Jumrah,Tawaf Wada’, Meninggalkan perbuatan yang dilarang saat ihram.

Keempat. Selesai Haji berprilaku lebih baik. Semua orang diundang untuk berkunjung ke tanah suci, tapi tidak semua orang mampu memenuhinya. Mereka yang mampu memenuhinya adalah orang terpilih, wufudzullah (tamu Allah). Bersama jutaan lainnya berkumpul menyatakan ketundukan dan kepasrahan kepada-Nya. Sekembalinya ke tanah suci menjadi tauladan sebagai hamba terhormat yang telah dimuliakan oleh Allah Swt. Lebih giat dalam beribadah, lebih dermawan, lebih santun, dan giat menebar kedamain. “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.” (H.R. Ahmad). “Rasulullah saw. ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ (HR. Al-Hakim)

Semoga yang sedang dan sudah melaksanakan haji menjadi haji yang mabrur. Bagi yang sudah merencanakan semoga diberi kelancaran hingga pada waktunya. Aamiin.