Jangan Diam atas Kedzaliman

oleh -

Di antara dosa yang begitu ‘keras’ diingatkan oleh al-Quran dan Nabi Saw adalah kezaliman. Hingga  Rasulullah Saw  amat khawatir jika kelak beliau menghadap Allah  mendapati tuntutan orang-orang yang terzalimi. “Sungguh aku berharap berjumpa dengan Allah, sementara tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntut aku karena suatu kezaliman terkait darah maupun harta (HR Abu Dawud).

Zalim artinya menyimpang dari kebenaran menuju pada kebatilan. kelak pada Hari Pembalasan setiap kezaliman akan dibalas dengan balasan setimpal. Bahkan binatang pun diberi kesempatan untuk membalas tindak kezaliman yang mereka alami. “Allah akan menegakkan qishas di antara semua makhluk-Nya; jin, manusia dan binatang. Pada hari itu, kambing yang tidak memiliki tanduk akan membalas (kezaliman) kambing yang bertanduk. Lalu setelah tidak tersisa lagi kezaliman apapun yang belum terbalaskan, Allah berfirman kepada binatang, “Jadilah kalian tanah.” Pada saat itulah orang kafir berkata, “Andai saja aku pun menjadi tanah.” (HR Ibnu Jarir).

Kezaliman yang begitu keras diingatkan adalah kezaliman yang dilakukan oleh penguasa terhadap rakyatnya. Hal ini terjadi saat para penguasa tidak mengurus rakyat dengan syariah Allah subhanahu wa ta’ala, tidak menunaikan hak-hak mereka, malah justru menipu dan merampas hak-hak mereka. Berjanji tapi mengingkari dan memberatkan beban rakyat.  “Siapa saja yang diamanahi oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu mati dalam keadaan menipu rakyatnya, niscaya Allah mengharamkan surga atas dirinya (HR Muslim).

Bentuk kezaliman penguasa terhadap rakyat antara lain memperdagangkan (urusan/kepentingan). Bahkan sesuatu yang mestinya hak rakyat namun rakyat harus mendapatkannya dengan sulit dan membayarnya dengan mahal. “Sungguh pengkhianatan paling besar adalah saat penguasa memperdagangkan (urusan/kepentingan) rakyatnya (HR Abu Nu’aim).

Ingatlah, bukan hanya kezaliman yang haram. Sikap mendiamkan kezaliman juga merupakan kemungkaran. Mendiamkan kezaliman sama dengan membiarkan kehancuran” Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfal [8]: 25)

Diantara langkah menghentikan kezaliman sesuai tuntunan Islam. Pertama: Beramar maruf nahi mungkar. “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga masyarakat umum melihat kemungkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu mengingkarinya tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian maka Allah akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu.” (HR Ahmad dan ath-Thabrani).”

Kedua: Tidak condong pada apalagi bersekutu dengan kezaliman. “Janganlah kalian cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka (TQS Hud [11]: 113).

Ketiga: Tidak menjadi bagian dari kekuasaan zalim. “Akan ada pada akhir zaman para penguasa zalim, para pembantu (pejabat pemerintah) fasik, para hakim pengkhianat dan para ahli hukum Islam pendusta. Siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, janganlah kalian menjadi pemungut cukai, tangan kanan penguasa dan polisi (HR ath-Thabarani).

Keempat: Mendoakan pelaku kezaliman agar mendapat keburukan sebagai balasan atas sikap-sikap mereka.
Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia menyayangi mereka, maka sayangilah dia (HR Muslim).

Sekali lagi! Seorang muslim terutama para ulama, para cendikia tidak boleh diam atas kezaliman. Bila semua diam, kebatilan bisa dianggap kebenaran.
“Ketika ahlul hak diam terhadap kebatilan, maka ahlul batil akan mengira mereka berada dalam kebenaran” (Ali bin Abi Thalib Ra)