Waspada Corong Setan

oleh -

Oleh : Bege Lesmana

Belakangan ini publik tanah air kembali digegerkan dengan isu lesbian, gay, bisexual dan transgender (elgebete) pasca viralnya podcast pasangan gay Ragil Mahardika asal Sumatera Barat dan Frederik Vollert dari Jerman.

Beragam komentar baik bernada protes maupun dukungan mengalir, termasuk dari pejabat pemerintah sekelas Mahfud MD.

Tentu ini bukan masalah sepele, karena berkaitan erat dengan hal mendasar, keimanan.

Saya tidak membahas elgebete-nya. Karena secara tegas dan tuntas Islam telah melarangnya. Hukumnya sdh qot’i, Haram. Yang saya soroti adalah sikap hukum seorang muslim. Mengapa orang Islam sekelas Mahfud MD, yang notabene lebih memahami Islam, lebih berpendidikan dari kebanyakan muslim, malah memberi ruang kepada elgebete dengan dalih demokrasi.

Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka” (HR. Muslim).

Maka, sikap hukum seorang muslim terhadap kemaksiatan, berimplikasi pada pahala atau dosa. Karena setiap sikap baik lisan maupun tindakan, akan berkonsekwensi hukum.

Pun ketika bersikap permisif terhadap kemaksiatan, bahkan terlibat menyebarkan konten kemaksiatan baik secara sosial maupun digital, maka akan terjadi konsekwensinya. Karena secara langsung dia aktif menjadi corong setan menyebar kemaksiatan.

Bahkan, jika seorang muslim diam karena ridha atas kemaksiatan yang disaksikannya, maka dia terancam melakukan mudahanah. Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Kitab Fathul Bari mengatakan bahwa mudahanah hukumnya haram. Mudahanah dari kata  ad duhhan, artinya menampakkan sesuatu namun menutupi hakekatnya.

Para ulama memaknai mudahanah dengan mengatakan bahwa mudahanah adalah bergaul dengan orang fasiq dan menampakkan keridhaan terhadap maksiat yang ia lakukan tanpa ada pengingkaran.

Lawan corong setan adalah dakwah. Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (H.R. Muslim)

Lantas, Kita mau pilih posisi dimana, sebagai apa? Menjadi corong ALLAH, atau jadi agen propaganda setan?