Korban Pembacokan di TPU: Motif Pelaku Bukan Soal Pembagian Jatah tapi Soal Persaingan Usaha

oleh -

Wartawan Agus Setiawan
Editor Abil

Salah seorang korban aksi pembacokan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pangsor, Desa/Kecamatan Pelabuhanratu, Melinda (40), menyangkal jika tindakan brutal pelaku pembacokan berinisial D (67), terhadap dia dan rekannya disebabkan pembagian jatah uang kerahiman dari para peziarah yang tidak adil. Tapi aksi bengis pelaku diduga dilakukan karena dipicu persoalan persaingan usaha.

Hal itu disampaikan Melinda yang didampingi suami dan anaknya, usai menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi, Jumat (13/5/2022). Akibat perbuatannya, kini pelaku mendekam di sel tahanan Polres Sukabumi, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Usai olah TKP, pihak kepolisian menyatakan, atas pengakuan pelaku, baru terungkap bahwa yang menjadi motif pembacokan terhadap para korbannya. Pelaku mengaku, pembagian jatah hasil dari sedekah para peziarah, menjadi pokok persolan yang mengakibatkan emosinya menjadi tak terkendali.

Namun dalih yang disampaikan pelaku, ditolak mentah-mentah oleh para korban. Justru apa yang disampaikan pelaku adalah fitnah.
Dalam berbagai kesempatan kata Melinda, pelaku kerap berprilaku buruk terhadapnya, karena usahanya merasa tersaingi.

“Kami tidak terima disebut tidak adil saat membagikan jatah uang kotak amal hingga kami dihakimi oleh dia dengan membabi buta membacok kami. Itu fitnah karena Kami telah membagi dengan adil jatahnya. Kita di sini pada tahu kalau D orangnya kasar dan diduga memendam benci kepada kami karena tidak suka kami usaha di area TPU Pangsaor,” terang Melinda,”ujarnya.

Atas kejadian tersebut, korban kini mengalami trauma psikis dan menginginkan nama baiknya untuk segera dipulihkan. Apalagi sampai terbentuk opini di masyarakat, bahwa apa yang dituduhkan pelaku terhadap para korban yang berbau fitnah itu adalah sebuah kebenaran,”tambahnya.

Di hubungi terpisah, kuasa hukum korban, Dede Puad Hasan, S. H. menyatakan, dirinya akan sekuat tenaga mengawal korban dan memberikan hak-hak korban di mata hukum. Salah satunya mengembalikan nama baik korban yang di tuduh tidak adil saat pembagian jatah uang kotak amal.

“Hari ini korban sudah di kediamannya setelah di rawat di rumah sakit. Saya akan mengawal korban sampai korban agar korban mendapatkan keadilan di mata hukum,” jelas Dede.