Inflasi Akibat Lonjakan Harga Bapokting di Kota Sukabumi Masih Aman Terkendali

oleh -

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Salah satu faktor pendorong tingginya angka inflasi di Kota Sukabumi, disebabkan karena meroketnya harga-harga bahan pokok penting (Bapokting). Hal itu disampaikan Kepala Bidang Perekonomian, dan Sumber Daya Alam, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Sukabumi, Yanto Arisdiyanto, kepada pelitasukabumi.com, Kamis, (12/5/2022).

“April 2022 kemarin, Kota Sukabumi mengalami inflasi sebesar 0,78 persen, atau terjadi kenaikan IHK pada bulan Maret 2022 sebesar 108,93 menjadi 109,78 pada April 2022,”kata Yanto.

Masih kata dia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa kelompok pengeluaran tersebut, yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,31 persen. Sementara kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,94 persen. Disusul kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,09 persen.

Adapun kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,35 persen.Lalu kelompok kesehatan menyumbang inflasi sebesar 0,27 persen, kelompok transportasi sebesar 1,60 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya
sebesar 0,13 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman (restoran) sebesar 0,52 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,33 persen.

“Inflasi pada bulan April tersebut, dikarenakan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga di beberapa kelompok pengeluaran yang tadi saya sebut itu,”ujarnya.

Disamping itu lanjut dia, data dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Dikumindag) Kota Sukabumi, menunjukan perkembangan harga Bahan Pokok Penting (Bapokting) pada bulan April 2022. Nyatanya dalam hal ini juga mengalami lonjakan harga. Kenaikan harga komoditas yang cukup signifikan adalah harga daging sapi yang dijual dikisaran Rp170 ribu per kilogram. Daging ayam broiler berada di titik harga Rp45 ribu per kilogram.

Begitu juga dengan komoditas jenis sayur-sayuran, seperti, cabai merah besar lokal yang dijual Rp90 ribu per kilogram, bawang merah dijual dengan Rp38 ribu per kilogram, dan cabai merah besar TW dibandrol dengan harga Rp60 ribu per kilogram.

“Namun kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, ditujukan hanya terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,07 persen. Namun ada juga satu kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan indeks, yaitu kelompok pendidikan,”jelasnya.

Yanto mengungkapkan, jika nilai inflasi Kota SUkabumi sejauh ini masih tergolong aman dan terkendali. Untuk tingkat inflasi tahun kalender April 2022 nilainya sebesar 2,16 persen, dan untuk inflasi tahun ke tahun (April 2022 terhadap April 2021) sebesar 3,07 persen.

“Ini masih bagus dan terus dapat terkendali sesuai target yg ditetapkan Bank Indonesia untuk inflasi 3 +/- 1. Makanya kita selalu berikan pemahaman dan terus informasikan saat rapat tentang perekonomian, terutama mengenai pengendalian inflasi,”katanya.