HINDARI MARAH, 𝐀𝐆𝐀𝐑 𝐉𝐀𝐍𝐓𝐔𝐍𝐆 𝐒𝐄𝐇𝐀𝐓

oleh -

Dr HC. N. Rahmat Prihantoro.B.Sc.Med. M,Kes

Marah merupakan salah satu cara dalam meluapkan emosi negatif. Sebenarnya, tidak ada salahnya meluapkan emosi melalui kemarahan, selama dilakukan dalam batas yang wajar. Namun, jika terlalu sering dilakukan apalagi tanpa alasan yang jelas lambat laun mengakibatkan perubahan anatomis dan fisiologis pada sejumlah sistem organ tubuh yang menimbulkan beragam gangguan kesehatan.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : β€œBarangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau. (HR. Imam Ahmad)

0rgan yang paling peka terhadap reaksi marah ini adalah jantung, disamping pelakunya akan kehilangan kendali dan hilang akal. Untuk itu larangan Rasulullah SAW : Laa Taghdhab, Laa Taghdhab, Laa Taghdhab…(jangan marah, jangan marah, jangan marah…) merupakan peringatan penting, bahwa marah hanya bikin jantung sengsara dan pelakunya menderita jasmani dan rohani.

Dari Abu Hurairah Radliyallahu anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam : β€œBerwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : β€œJangan menjadi seorang pemarah.” Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda : β€œJanganlah menjadi orang pemarah”. (HR. Bukhari)
Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan makna hadits mengandung dua kemungkinan:
Pertama: Hadits ini mengandung perintah Untuk bersikap lembut, pemalu, tidak suka mengganggu, pemaaf, tidak mudah marah.Kedua: mengandung larangan melakukan hal-hal yang menyebabkan kemarahan.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : β€œSesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah. (HR. Ahmad).

Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan ada 4 hal pemicu marah, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharamkan dari neraka : yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.

Berdasarkan penyelidikan ilmiah, pengaruh fisiologis akibat marah yaitu adanya berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah. Hormon adrenalin dan hormon-hormon lainnya menyalakan bahan bakar pada saat marah muncul. Marah akan β€œmempercepat” kematian. Amarah yang terjadi pada seseorang akan memengaruhi atas kualitas kesehatannya. Menurut para ahli kesehatan, amarah dapat menyebabkan kematian secara mendadak.

Dalam buku β€œSehat Berpahala” karya Dr.Egha Zainur menyatakan, membiasakan dengan sifat marah berarti bersiap dengan tingginya kolesterol dan tekanan darah dalam jangka waktu lama.
Marah juga dapat membinasakan hati. Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata,”Amarah membinasakan hati dan kebijaksanaan, barangsiapa yang tidak dapat menguasainya, maka ia tidak akan dapat mengendalikan pikirannya.”

Untuk itu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : β€œOrang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam juga bersabda : ”Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Taala kecuali Allah Subhanahu wa Taala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan. (HR. Abu Dawud).
Rasulullah memberikan panduan guna mengendalikan amarah:

  1. Membaca taawudz ketika marah.
  2. Dengan duduk
    Apabila dengan taawudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.
  3. Tidak berbicara
    Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain. β€œApabila diantara kalian marah maka diamlah. Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)
  4. Berwudlu
    Rasulullah SAW bersabda: β€œSesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.(HR. Ahmad)

Meski demikian tidak semua kemarahan itu tercela, ada yang terpuji, bahkan sampai pada tingkatan harus marah yaitu ketika kita melihat agama Allah direndahkan dan dihinakan. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah maka beliau tidak diam, beliau marah dan berbicara.