Talas Beneng Sagaranten Menembus Pasar Ekspor Dua Negara

oleh -
Lahan kebun talas beneng di Kampung Cikupa, Kedusunan Pasiripis, Desa/Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi.

Wartawan Agus Setiawan

Editor Wawan AS

Ketekunan dan keuletan Rahmat (43) warga Kampung Cibogo RT 11 RW 04 Kedusunan Pasiripis, Desa/Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi dalam menekuni agrobisnis patut dijadikan inspirasi. Dia berhasil membudidayakan talas beneng yang merupakan akronim dari besar dan koneng hingga hasilnya diekspor ke mancanegara.

Dalam mengembangkan usaha pertaniannya, Rahmat bekerja sama dengan CV Putra Gunung Karang yang berbasis di Pandeglang.  Dia mendapat kepercayaan dari perusahaan tersebut untuk memasok produk-produk talas beneng asal Sagaranten yang akan dijadikan komoditas ekspor ke berbagai negara.

“Talas beneng tak ada bedanya dengan talas biasa. Bentuk pohon dan daunnya juga hampir mirip dengan talas jenis lainnya. Bedanya terletak pada bagian tanaman yang dipanen,” kata Rahmat kepada wartawan, Ahad (21/11/2021).

Talas biasa yang dipanen itu umbinya, pelepahnya dijadikan sayur serta daunnya untuk pakan ikan. Namun pada talas beneng, justru daunnya yang dijadikan produk utama. Daun talas beneng merupakan bahan dasar untuk campuran rokok yang tidak mengandung nikotin sedikit pun. Pelepahnya juga bermanfaat sebagai bahan pangan. Umbi talas beneng bisa dijadikan keripik atau tepung.

“Yang kami jual ke Pandeglang pelepah dan daunnya. Daunnya yang telah diiris diekspor ke Selandia Baru, sedangkan pelepahnya dijual ke Belanda,” jelas Rahmat. 

Dia menembus pasar ekspor di dua negara berbeda benua tersebut melalui CV Putra Gunung Karang. Di Sagaranten, tugas Rahmat membudidayakan talas beneng dan mengiris daunnya hingga berbentuk tembakau. Lalu mengirimkan produk dari talas beneng ke Pandeglang.

“Jangka waktu panen jenis talas ini rata-rata satu semester atau kurang lebih enam bulan. Tidak terlalu lama untuk ukuran tanaman palawija,” tutur dia.

Saat ini Rahmat mengelola lahan seluas 3 haktare untuk budi daya talas beneng. Satu putaran produksi budi daya talas beneng membutuhkan dana kira-kira sebesar Rp100 juta per satu hektare lahan untuk membeli bibit, mengolah lahan, pupuk, pemeliharaan, biaya panen, dan biaya pasca panen. 

“Budi daya talas beneng ini bisa mepekerjakan warga sekitar untuk mengolah lahan, memelihara tanaman, panen, dan pengolahan hasil panen termasuk mengiris dau talas,” ujar Rahmat.

Petani yang membudidayakan talas beneng harus tahu cuaca sebab tanaman ini mengalami perlambatan tumbuh pada musim kemarau. (*)