Pengidap Covid-19 di Dayeuhluhur Trauma Melihat Kerumunan

oleh -
Foto Ilustrasi: Vaksinasi merupakan salah satu ikhtiar untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Begitu pentingnya vaksinasi, Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami siap menjadi kelompok warga yang paling duluan diberi suntikan vaksin.

Wartawan Wawan Aries Setiawan

Pengalaman pahit dialami salah seorang pengidap Covid-19 yang tinggal di Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Dia mengalami trauma berat ketika melihat kerumunan orang. Untuk mencegah dampak yang lebih buruk, pengidap Covid-19 tersebut secara suka rela dan mandiri memperpanjang masa diam di rumah untuk menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Sebenarnya kondisi dia telah berangsur pulih. Dia pantas diberi panggilan Kang Tegar, sebut saja namanya seperti itu karena keteguhannya dalam menghadapi berbagai kesulitan melawan Virus Corona. Kang Tegar dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang menderanya sejak awal terpapar di rumah sakit, isolasi mandiri di rumah, sampai proses penyembuhan. Semua dijalaninya dengan penuh ketekunan dan kesabaran untuk membebaskan dari dari Covid-19. Namun menjelang kesembuhannya, dia mengalami trauma ketika melihat kerumunan orang.    

“Saya menjadi trauma ketika melihat kerumunan orang. Kepala langsung sakit, vertigo saya kambuh,” kata Tegar ketika dihubungi lewat telepon seluler, Ahad (4/7/2021).

Sejak merasakan pedihnya serangan Virus Corona, Tegar selalu merasa tidak nyaman kalau melihat kerumunan orang dalam jumlah banyak. Hal ini berawal dari keyakinannya, dia terpapar oleh Covid-19 setelah mengikuti acara mancing bersama di kawasan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi pada 5 Juni 2021. Banyak orang berkerumun di tempat kegiatan massal tersebut.

“Saya terus memikirkan bahwa dari kerumunan itulah saya tertular Covid-19. Sampai sekarang masih terus terbayang-bayang, dampak kerumunan belum hilang dari pikiran saya,” ujar dia.

Selama menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit, bayangan kerumunan selalu mengganggu pikiran dan tidurnya. Pikiran bawah sadarnya selalu membawa Tegar pada mimpi dan bayangan tentang kerumunan. Setelah kondisinya agak pulih pun, bayangan tentang kerumunan tidak juga lenyap.

“Kemarin hari Jumat saya ke masjid. Ini shalat jumat pertama sejak saya terinfeksi Virus Corona. Saya bertemu dengan jamaah yang berkerumun. Langsung trauma. Vertigo saya kambuh seketika. Sampai sekarang kepala bagian kanan masih terasa sakit,” tuturnya.

Tegar menyadari untuk memulihkan kondisi tubuhnya, dia dan keluarga harus total melasanakan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di bawah air yang mengalir atau handsanitizer, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Sampai sekarang saya total berada di luar rumah. Saya memperpanjang masa tinggal di rumah. Untuk memenuhi keperluan sehari-hari, saya menggunakan fasilitas telepon seluler. Keperluan sarapan pagi dan obat-obatan diurus oleh kader posyandu dan ketua RT yang baik hati. Kami tinggal mengambilnya di pagar rumah,” kata dia.

Sementara keperluan belanja diatur lewat fasilitas pesan singkat dan chating dengan pemilik warung atau pedagang sayuran. Tegar selalu mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya dari pagar rumah, tergantung di dalam kantung plastik. Sering kali pemilik warung dan pedagang sayur menolak pembayaran lewat transfer bank.

Para tetangga di tempat tinggalnya benar-benar memberikan support penuh kepada pengidap Covid-19. Mereka bergotong royong dan bahu-membahu untuk membantu dan meringankan beban para penderita Covid-19. Di lingkungan tempat tinggalnya terdapat beberapa warga yang terinfeksi Virus Corona.

“Beberapa hari belakangan ini, kondisi warga yang terpapar Covid-19 di tempat tinggal saya sudah mulai pulih. Bahkan beberapa orang di antaranya telah melakukan aktivitas pekerjaannya seperti biasa. Saya sendiri masih belum berani keluar rumah dan menjalankan aktivitas. Nanti menunggu kondisi tubuh benar-benar pulih,” ujarnya.

Pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari pengalaman serangan Covid-19 yang menimpanya, Tegar harus lebih waspada dan berhati-hati. Dia meyakini Virus Corona dan Covid-19 itu nyata adanya. Tegar berani mengabaikan pendapat sebagian orang yang menyatakan, Covid-19 itu konspirasi untuk mengeruk keuntungan oleh segelintir orang.  

“Saya merasakan sendiri, Covid-19 itu nyata dan benar-benar ada. Ini wabah global, bukan konspirasi dan sejenisnya. Saya tertular penyakit ini setelah berada di tengah kerumunan orang. Jangan menyepelekan Virus Corona, kita harus menghindari dan mencegah penularannya,” ungkap dia.

Cara mencegah dan menghindari Covid-19 itu, lanjutnya, relatif mudah dan murah yaitu dengan melaksanakan 5M. Tapi kalau sudah tertular, perawatan dan penyembuhannya sulit dan mahal. (*)