Ratusan Penyintas Rutin Infus Darah, Para Pejuang Thalassemia Bertekad untuk Bertahan Hidup

oleh -
Para pejuang thalassemia yang mengelola warung makan di Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi yaitu Abah Metic (kanan) dan salah satu penyintas bernama Irpan.

Wartawan Agus Setiawan

Editor Wawan AS

Nama panggilan akrabnya Abah Metic (49). Dia dikenal sebagai relawan yang memperjuangkan kepentingan para penyintas thalassemia. Sudah dua tahun terakhir ini Abah Metic mengurusi para pejuang thalassemia (istilah untuk para penyintas) di Kota dan Kabupaten Sukabumi agar mereka bisa tetap optimis dan bertahan hidup. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung: 520 orang.

Dalam memperjuangkan thaler –sebutan untuk penyintas atau penyandang thalassemia, Abah Metic menjalankan berbagai usaha sektor riil. Dia membuka  usaha warung nasi di Jalan Ahmad Yani Nomor 18A Kota Sukabumi persis di depan Pizza Hut. Selain warung nasi, rekan-tekan thalernya  juga ada yang berjualan kuliner seperti sosis bakar di berbagi lokasi. 

“Kegiatan usaha ini untuk memenuhi kebutuhan hidup para pejuang thalassemia. Melalui kegiatan usaha ini kami bisa mengedukasi masyarakat agar lebih mengenal thalassemia dan mengajak berbagai kalangan untuk mendonorkan darah secara suka rela kepada para thaler,” kata Abah Metic ketika ditemui di tempat usahanya, Jumat (18/6/2021).

Ketua Kebangkitan Jawara dan Pengacara/Bang Japar Indonesia (BJI) Preswil Jawa Barat, Budhy Lesmana (berbaju putih) termasuk aktivis yang sering mendorong rekan-rekannya untuk berbelanja di warung nasi yang dikelola para pejuang thalassemia.

Thalassemia, jelas dia, merupakan kelainan darah yang diturunkan dari orang tua. Kelainan ini ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal. Pengidapnya sering mengalami cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas. Pada level yang berat, penyintas thalassemia harus melakukan infus darah terus-menerus.  

“Alhamdulillah, kami bersama para pejuang thalassemia terus berupaya agar bisa tetap produktif dalam menjalani hidup. Kami semua bersama-sama memenuhi kebutuhan dan kerap mengajak para donatur agar rela mendonorkan darahnya untuk para thaler,” ujar Abah Metic.

Selain berjuang di jalur ekonomi, Abah Metic juga terus memperjuangkan labu darah untuk ditransfusikan kepada para penyintas thalaesmia. Dalam satu minggu, mereka membutuhkan darah antara 30 sampai 50 labu. Sementara selama ini ketersediaan darah selalu kurang.

“Untuk memenuhi kebutuhan darah, kami sering mengalami kesulitan. Apalagi jika kebutuhan darahnya berupa beta mayor yang harus terus menjalani transfusi darah seumur hidup,”ucap Abah Metic.

Seperti yang terjadi pada kasus Irpan, salah satu thaler yang mengurus usaha warung nasi bersamanya. Irpan (22) salah satu pejuang thalassemia yang harus terus mendapatkan transfusi darah seumur hidup dari para pendonor.

“Irpan merupakan contoh yang harus mendapatkan transfusi darah seumur hidup. Dia anaknya berbakat karena berpendidikan Diploma I dan memiliki keahlian di bidang desain komputer. Di Sukabumi banyak thaler yang memiliki kemampuan bagus,” ujar Abah Metic.

Manurut Bah Metic, sekitar 90 persen pendonor belum tahu persis apa itu thalassemia. Agar semangat para pendonor terus meningkat, kata dia, thalassemia perlu terus disosialisasikan ke masyarakat. Tujuannya agar semakin banyak pendonor darah yang siap membantu para thaler.

Kondisi saat ini kebutuhan labu darah yang tinggi bagi para thaler seringkali tidak terpenuhi oleh beberapa rumah sakit.  BPJS merekomendasikan dua labu untuk thaler, tapi kenyataannya hanya satu labu yang terpenuhi. Apalagi di tengah wabah Covid-19 ini, labu darah sulit didapat.

Untuk memenuhi kebutuhan darah itu, para thaler mendapat uluran tangan dari organisasi, komunitas, dan perorangan. Dia menyebutkan  PMI Kota Sukabumi lembaga terbaik dalam membantu dan melayani para thaler.

Perjuangannya bersama para thaler mendapat perhatian dari Sahabat Kristiawan Peduli (SKP). Sejak dua minggu terakhir, Kristiawan Saputra sebagai founder SKP dan rekan-rekan membuat program sosial untuk mendukung para thaler. Dia membuat program makan sambil beribadah dengan tema “makan sepuasnya, bayar seikhlasnya”. Program tersebut sepenuhnya dijalankan oleh Bah Metic dan para thaler.

“Program dengan Kang Kristiawan untuk mensosialisasikan thalassemia kepada warga yang belum mengetahui kelainan darah ini. Dari program ini, kami harapkan akan banyak kalangan yang membantu para thaler, lebih khusus berupa donor darah,” ungkapnya. (*)