Mustika Kalajengking Komit Menjaga Kelestarian Budaya Nenek Moyang

oleh -
Di tengah keterbatasan, para nayaga dan pesilat Padepokan Mustika Kalajengking terus berlatih untuk mengasah dan meningkatkan keterampilan.

Wartawan Agus Setiawan

Editor Wawan AS

Didirikan pada tanggal 14 Januari 2019, umur Padepokan Mustika Kalajengking  telah mencapai hampir 2,5 tahun. Perkumpulan pencak silat ini lahir pada Senin Wage untuk menjemput harapan bagi lahirnya para pesilat tangguh yang siap melestarikan budaya peninggalan nenek moyang.

Di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, para pengurus dan ponggawa Padepokan Mustika Kalajengking  terus berjuang untuk mempertahankan eksistensi organisasi dan menjaga semangat anggota, khususnya generasi muda dalam melanggengkan nilai-nilai dan  filosofi pencak silat. Para pengurus Mustika Kalajengking tidak mengenal lelah untuk mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi pencak silat kepada generasi penerus.

Padepokan ini bukanlah perkumpulan yang berlimpah ruah dengan fasilitas dan peralatan. Bahkan tempat latihannya pun ruangan sederhana pada rumah di Kampung Pangcalikan RT 01 RW 15 Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Di rumah itulah para nayaga dan pesilat mengadakan latihan rutin tiap hari Selasa dan Jumat malam. Kadang-kadang sesi latihan tersebut juga digunakan oleh pengurus untuk mendiskusikan cara-cara dan langkah untuk memajukan dan mengembangkan Padepokan Mustika Kalajengking.

Padepokan ini dipimpin oleh Embah Yuhi sebagai ketua dengan Wakil Ketua Edi Kendang dan Pembina Joko Samudro van Suroboyo yang sehari-hari aktif sebagai Pemimpin Redaksi media sukabumionline.net.

Dalam formasi nayaga, Embah Yuhi mengisi posisi sebagai penabuh kendang utama, Edi kebagian pegang kendang gedung, Deri juga pegang kendang, Dave pemain gong, dan Embah Tamin sebagai peniup terompet. Dari waktu ke waktu, Mustika Kalajengking terus mengembangkan gaya musiknya. Ke depan padepokan ini akan dilengkapi pemain kecrék sebagai penyelaras irama kendang dan gerakan pencak silat.

“Kami masih minim fasilitas dan peralatan. Alat musik yang tersedia sudah agak usang sehingga beberapa di antaranya harus diremajakan,” kata Embah Yuhi kepada wartawan, Ahad (13/6/2021).

Padepokan yang dipimpinnya, ujar dia, juga belum mempunyai terompet. Selama ini, setiap kali latihan, Embah Yuhi meminjam terompet dari padepokan lain. Dia sedang berupaya keras untuk mendapatkan terompet pencak silat yang harganya antara Rp250 ribu hingga Rp750 ribu. Dananya belum tersedia, jadi keinginan untuk mempunyai terompet sendiri masih belum terwujud.

“Tidak perlu terompet yang bagus yang ada ukirannya. Cukuplah terompet polos asal byunyinya nyaring dan stabil,” ungkap Yuhi.

Selain terompet, fasilitas lain yang dibutuhkan Padepokan Mustika Kalajengking antara lain natras dan pelindung tubuh untuk mendukung latihan fisik para pesilat. Sesuai nama perguruannya, latihan fisik dan jurus di padepokan ini sering menyengat seperti kalajengking. Keras tapi terarah.

“Semua apa yang kami lakukan  ini untuk mendorong generasi muda Sukabumi agar mencintai kesenian tradisional pencak silat. Kami juga selalu berupaya untuk menghasilkan pesilat-pesilat tangguh dan berprestasi,” tuturnya.

Kesenian pencak silat Mustika Kalajengking sering tampil untuk memenuhi undangan masyarakat dan padepokan lain di wilayah Cibadak dan sekitarnya. (*)