Larangan Mudik Membuat Para Supir Bus Menjerit Pilu

oleh -
Risman, salah seorang pengemudi bus yang menghadapi masa suram akibat adanya larangan mudik Lebaran oleh pemerintah.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Editor Iyus Firdaus PWI

Pemberlakuan masa larangan mudik yang ditetapkan Pemerintah Pusat dan Satuan Gugus Tugas Covid-19, terhitung 6 -17 Mei 2021 tentunya sangat berdampak terhadap PO (Perusahaan Otobus) dan para supirnya. 

“Larangan tersebut sangat merugikan untuk kami selaku pengelola transportasi, tahun lalu lockdown, dan tahun ini pun kami harus lockdown kembali,”kata salah seorang supir Bus AKDP, Risman Firmansyah ketika ditemui wartawan di Terminal Tipe A KH Ahmad Sanusi, Senin (3/5/2021).

Untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi keluarganya, Risman pun hanya bisa pasrah entah harus usaha apa nanti, selama dirinya tidak bisa bekerja di masa larangan mudik tersebut.

“Kami bisa bekerja sampai tanggal 5 Mei 2021, selanjutnya tidak bisa beroperasional. Pemberitahuan tentang larangan operasional sudah kami terima sejak sebulan yang lalu,”ujarnya.

Risman hanya bisa pasrah tentang kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Pusat, sebagai bentuk upaya memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Namun disisi lain hal itu juga berdampak terhadap ekonomi para supir bus maupun PO. Risman pun berharap ada kebijakan kompensasi atau bantuan ekonomi dari Pemerintah untuk para supir Bus.

“Baik dari Pemerintah maupun Perusahaan, tidak ada kompensasi untuk kami yang tidak bisa bekerja selama masa larangan mudik,”tuturnya.

Dirinya berharap tetap bisa beroperasi kembali secara normal, walau harus ada pembatasan jumlah penumpang dengan memperhatikan protokol kesehatan. Diakuinya sebelum bulan puasa sudah terjadi penurunan jumlah penumpang sekitar 60 persen, dan semenjak mewabahnya virus Covid-19, namun dia tetap semangat untuk bekerja.

“Padahal menjelang lebaran itu merupakan hari H nya karyawan PO, tapi mau gimana lagi, kami hanya bisa pasrah walau hati menjerit,”ungkapnya. (*)