Bisakah Negara Mengandalkan Ekspor untuk Bangkitkan Ekonomi?

oleh -

Opini oleh Yuyun Suminah, A.Md., guru di Karawang

Eskpor merupakan aktivitas transportasi produk dalam negeri ke luar negeri yang biasanya dilakukan oleh perusahaan berlevel nasional maupun daerah mulai dari bisnis menengah sampai atas dengan tujuan bersaing di kancah internasional.

Jika melihat kondisi di Jawa Barat,  berkaitan dengan ekspor-impor barang, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmadja pernah menyampaikan, ekspor dari Jawa Barat mencatatkan angka tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan ekspor dari Jabar mengalahkan Jawa Timur dan Jawa Tengah yang beberapa kali menjadi penyumbang tertinggi ekspor di Indonesia.

Pencapaian ekspor tertinggi ini seperti kabar baik bagi masyarakat. Namun jika melihat faktanya, sepertinya kita tidak boleh merasa bersenang dulu. Pencapaian ekspor tertinggi itu berasal dari perusahaan yang sebagian besar masih mengandalkan investasi asing dari segi permodalannya. Dengan kata lain perusahaan ini bukanlah  milik warga Jabar melainkan kepunyaan para pengusaha asing. Maka yang mendapat keuntungan atau laba adalah perusahaan pengekspor yang dimiliki oleh para kapitalis.

Dengan demikian, capaian angka peningkatan tersebut hanya kamuflase yang seolah-olah peningkatan ekspor tersebut menunjukkan bangkitnya ekonomi Jabar. Padahal kenyataannya belum tentu demikian. Justru besar kemungkinan efek dari meningkatnya ekspor di Jabar hanya dirasakan oleh mereka para pemilik modal sedangkan hasil produksi dari rakyat tetap tidak mampu bersaing karena terkendala modal dan lain-lain.

Penulis opini, Yuyun Suminah, A.Md.

Bangkitnya ekonomi tidak ditentukan semata-mata oleh tingginya produk yang diekspor. Sebab dari keseluruhan proses ekonomi, hal yang paling penting adalah menjadikan negara bisa tangguh secara ekonomi.

Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap upaya mewujudkan negara tangguh secara ekonomi? 

Islam merupakan agama yang sempurna selain agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT yang berkaitan dengan ibadah. Namun, Islam juga sebuah ideologi yang artinya mengatur semua aspek kehidupan. Tidak ada sisi kehidupan yang luput dari aturan Islam baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan aspek sosial lainnya. 

Untuk mewujudkan negara berdaulat secara ekonomi yang mana semua masyarakat di dalamnya, baik muslim maupun nonmuslim bisa menikmati kesejahternaan, langkah yang harus dilakukan adalah menjalankan sistem ekonomi berbasis baitul mal. Model ekonomi inilah  yang dijalankan oleh Rasulullah dan para sahabatnya di Madinah.

Dalam sistem Islam segala jenis pemasukan bisa diperoleh dengan optimalisasi sumber daya alam. Sumber pendapatan negara diperoleh ketika semua sumber daya alam mulai dari daratan, lautan, dan perut bumi yang semuanya diatur dan dikelola sepenuhnya oleh negara. Jadi negara tidak mengandalkan hasil ekspor untuk mendapatkan pemasukan kas negara.

Jikapun kegiatan ekspor tersebut dilakukan sifatnya dalam rangka membantu negara lain termasuk negeri kafir dzimmi yakni negara yang penduduknya nonmuslim dengan posisi tidak memusuhi negara Islam. Hal itu ditempuh sebagai bentuk kepedulian negara Islam untuk memenuhi kebutuhan negara lain.

Sistem Islamlah yang mampu  membangkitkan ekonomi secara sistemik oleh negara untuk menjaga kesejahteraan penduduknya dengan menggali potensi sumber daya alam, tidak semata mengandalkan ekspor barang saja. Karena negara adalah penanggung jawab penuh dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya.

“Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari). Wallahua’lam. (*)