Kopi Jawara Sudah Mempunyai Pasar Tetap, Kiai Fajar Iklas Menjadi Model Iklannya

oleh -
Launching Kopi Jawara dihadiri para tokoh dan artis dari kiri ke kanan Budhy Lesmana, Dik Doank, Achmad Fahmi, KHM. Fajar Laksana, Yudha Sukmagara, dan Drajat.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Editor Wawan AS

Direktur Utama PT Bumi Kreasi Investama yang juga dikenal sebagai Ketua Kebangkitan Jawara dan Pengacara Indonesia (BJI) Presda Sukabumi Raya, Budhy Lesmana menegaskan, Kopi Jawara sudah memiliki pasar tetap. Walaupun baru dilaunching, kopi yang memiliki tagline Jawaranya Kopi itu relatif telah dikenal di kalangan para penikmat kopi.   

“Anggota BJI yang ada di wilayah Kota maupun Kabupaten Sukabumi bukan hanya penikmat juga penyalur Kopi Jawara. Mereka menjadi bagian dari mata rantai distribusi sebagai agen dan pengecer Kopi Jawara,” kata Budhy seusai acara launching Kopi Jawara di Gerai BJI Mart, Jalan Baru Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (6/3/2021).

Di samping itu ada kelebihan lain,  Kopi Jawara memiliki model iklan yang bukan sembarang orang. Dialah Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KHM. Fajar Laksana. Hebatnya, Kiai Fajar menjadi model iklan Kopi Jawara berdasarkan rasa ikhlas, tanpa dibayar.

Produksi dan pemasaran Kopi Jawara, ujar Budhy, merupakan salah satu usaha bersama untuk memajukan ekonomi umat yaitu dengan melahirkan produk lokal Sukabumi yang akan dibawa ke pasar internasional. 

Banyak keunggulan dan ciri khas dari Kopi Jawara. Bahan dasarnya berasal dari biji kopi yang dibudidayakan oleh petani kopi lokal Sukabumi. Peracikannya merupakan perpaduan atau blending sempurna antara kopi arabika-robusta plus gula aren premium.

“Hal itulah yang menjadikan Kopi Jawara memiliki citra rasa berkelas, nikmat, dan ekslusif.  Pelem sampai tetes akhir,” ujar dia. 

Dalam penyediaan bahan baku, Budhy dan tim akan melakukan pembinaan kepada para petani kopi di Sukabumi agar mereka dapat mempertahankan dan meningkatkan hasil panen. Kontinyuitas pasokan kopi dari para petani merupakan faktor penentu dalam menjaga kesinambungan produksi.

“Rencananya kami akan membangun pabrik kopi di Jalan Sarasa dalam waktu dua sampai tiga bulan ke depan,” jelas Budhy.

Produk dari pabrik Kopi Jawara akan disalurkan ke pasar lokal, regional, nasional, dan bahkan internasional untuk melayani pemintaan para penikmat kopi.

Berita terkait sebelumnya: Dari Sukabumi untuk Dunia, BJI Sajikan Pilihan Bijak Kopi Jawara

Satu pak Kopi Jawara dijual dengan harga Rp20 ribu dengan isi 10 pcs untuk penjualan eceran. Jadi harganya Rp2 ribu per sachet. Ada bagian untuk sedekah dari harga tersebut.

“Dengan membeli Kopi Jawara itu artinya penikmat kopi sudah bersedekah untuk infak senilai 2,5 persen. Kami akan menyisihkan hasil penjualan untuk infak yang akan dikelola oleh Divisi BJI Peduli. Dana infak tersebut untuk merespon musibah di masyarakat, baik bencana kemanusiaan maupun bencana alam,” jelas Budhy.

Definisi kata jawara pada merek kopinya, lanjut dia, memiliki pengertian dan makna filsafat. Jawara, kata Budhy, mengacu pada simbol dalam arti orang yang siap mengorbankan harta, pikiran, dan waktunya untuk menolong orang lain.

“Filsafatnya setiap orang yang minum Kopi Jawara akan menerima kebaikan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama,” ujar dia.

Di tempat yang sama, Kiai Fajar menegaskan, dirinya ikhlas dijadikan model dalam Kopi Jawara tanpa dibayar sepeser pun. Dia merasa senang dan bahagia dapat menjadi bagian dari Kopi Jawara karena sebagian dari hasil penjualannya disisihkan untuk sedekah.

“Dana sedekah ini bisa disalurkan kepada umat atau pesantren yang membutuhkan bantuan,” kata Kiai Fajar. (*)