Mahasiswa STISIP Syamsul Ulum Gelar Aksi Kemanusiaan di Lokasi Pergerakan Tanah

oleh -
Mahasiswa STISIP Syamsul Ulum menggelar trauma healing bagi anak-anak yang tinggal di pengungsian akibat bencana pergerakan tanah di Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.
Perwakilan mahasiswa STISIP Syamsul Ulum menyerahkan bantuan sembako untuk korban bencana pergeseran tanah kepada relawan di posko pengungsian.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Editor Wawan AS

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Syamsul Ulum Sukabumi sukses menunaikan tugas kemanusiaan di lokasi bencana pergerakan tanah di Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.

Dalam kegiatan itu, para mahasiswa membagikan sembako, makanan dan minuman ringan, dan pakaian. Mereka juga menyelenggarakan trauma healing  untuk menghibur anak-anak yang menjadi korban pergerakan tanah.

“Para mahasiswa kami mengumpulkan dana secara swadaya untuk menyelenggarakan aksi kemanusiaan di lokasi bencana pergerakan tanah,” kata Ketua STISIP Syamsul Ulum, Dra. Hj. Fatmawati, PUA, UPA, M.M. kepada wartawan, Selasa (9/2/2021).

Rombongan mahasiswa yang berangkat ke Kampung Ciherang itu diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HIMA IAN) STISIP Syamsul Ulum.

“Mereka minta bantuan kepada masyarakat yang melintas di jalan. Tapi kami memberikan syarat, kegiatan penggalangan dana harus di depan kampus kami agar mudah pengawasannya,” ujar Fatmawati.  

Hasil dari penggalangan dana itu berupa pakaian, uang kontan, sembako, dan makanan ringan. Semuanya diberikan kepada para korban pergerakan tanah.

Di lokasi aksi sosial, para mahasiswa menggelar trauma healing untuk anak-anak. Dalam terafi ini mahasiswa mengajak anak-anak untuk bermain sambil membagi-bagikan hadiah. Anak-anak yang trauma akibat bencana dibuatnya terhibur dan begembira.

Kondisi terakhir di Kampung Ciherang, jumlah pengungsi 56 KK yang terdiri dari 168 jiwa. Rinciannya laki-laki 88 jiwa, perempuan  80 jiwa. Jumlah rumah terdampak 37 unit.

“Kami mengharapkan para korban bencana segera pulih kondisinya. Semoga bencana pergerakan tanah tidak terjadi lagi. Kami mohon pemerintah setempat lebih memperhatikan dan mengawasi daerah rawan bencana untuk mengurangi risiko bencana,” kata Fatmawati. (*)