Pengrajin Bambu Berusia Lanjut Tersisih dari Daftar Penerima Banpres

oleh -
Pelaku usaha mikro, Komarudin yang memasarkan barangnya ke berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten Sukabumi.

Wartawan Agus Setiawan

Editor Wawan AS

Pengrajin alat rumah tangga berbahan dasar bambu, Komarudin (63) warga Kampung Katulampa, Desa/Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi harus menahan diri untuk bisa mengembangkan usahanya. Dia tidak tercantum pada daftar penerima Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) dari Presiden RI atau Banpres untuk usaha mikro.

Padahal Komarudin ingin sekali mendapatkan bantuan modal untuk megembangkan usaha kerajinan bambu yang telah ditekuniya sejak tahun 1990. Andaikan  mendapat bantuan modal dari pemerintah melalui BPUM, dia akan menggunakan dana tersebut untuk membeli peralatan dan menambah modal usaha.

“Saya sudah tiga kali mengajukan permohonan bantuan melalui pegawai desa, tapi sampai saat ini bantuan itu tidak pernah datang. Saya tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan dari pemerintah,” kata Komarudin ketika bertemu wartawan di pertigaan Cigadog Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, Ahad (7/2/2021).

Jangankan menerima bantuan dalam bentuk tunai, ujar dia, kabar tentang tindak lanjut dari pegajuan BPUM tersebut sama sekali tidak ada. Permohonan dan data yang pernah diajukan tidak jelas ujung dan pangkalnya.

Selama ini Komarudin menekuni usahanya dengan modal pas-pasan. Dia membuat dan memasarkan berbagai jenis peralatan dapur yang terbuat dari bambu seperti bakul, nyiru, saringan, tampar, kipas nasi, topi cetok, dan kukusan.

Dia ingin meningkatkan jumlah produksi untuk dijual keliling ke berbagai kecamatan. Namun keinginannya itu belum bisa dilaksanakan karena Komarudin belum memiliki modal.  

“Sejak 1990 saya menekuni usaha ini. Alhamdulillah, saya bisa bertahan meskipun dengan modal seadanya,” ujar dia.

Setiap kali berangkat dari rumah, Komarudin membawa barang dalam jumlah banyak dengan jumlah sekitar 200. Untuk menghabiskan barang sebanyak itu, dia berjualan keliling hingga ke berbagai kecamatan hingga satu minggu. Kadang-kadang menginap di masjid kalau diberi izin oleh DKM.

Sebelum pandemi Covid-19, dia bisa  berjualan sampai wilayah Banten, Kabupaten Bogor, dan pinggiran Jakarta. 

“Waktu saya habis di jalan. Tapi saya harus menjalaninya untuk mempertahankan usaha ini,” tutur Komarudin. (*)