Awalnya Pelukis Poster Sandiwara, Lalu Menjadi Sutradara Sinetron di Era Milenial

oleh -
Pengabdi seni asal Sukabumi yang berangkat dari teater rakyat hingga menjadi sutradara sinteron kenamaan, Cece Suhanda alias Cece Sri Asih.

Wartawan Asep G. Yusup (Kang Speth)

Editor Wawan AS

Perjalanan hidup Cece Suhanda atau yang lebih dikenal dengan sapaan Cece Sri Asih sangat berwarna dan berliku-liku. Seniman sejati asal Sukabumi ini merintis karier seni dengan awalan sebagai pelukis poster di lingkungan Sandiwara Sunda Sri Asih pada tahun 1969. Setelah melewati jalan dan titian waktu yang panjang, Cece berhasil masuk ke dunia film dan sinteron berlevel nasional.

Kini Cece masih aktif sebagai sutradara film dan sinetron. Salah satu sinetron yang disutradarainya adalah Di Sini Ada Setan produksi tahun 2004 sebanyak 86 episode. Sinetron tersebut merupakan kiprahnya pada masa-masa awal dia terjun ke dunia sinematografi.

“Saya mengenal dunia film dari Kang Dedi Setiadi, sutradara senior asal Sukabumi. Berkat bimbingan dari beliau, saya menekuni seni pengatur laku,” kata Cece ketika ditemui di rumahnya di Cijangkar RT 01 RW 01 Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Kamis (3/12/2020).

Bertemu dengan Dedi tahun 1990, dia diajak bermain di sinetron Jendela Rumah Kita yang dibintangi Desi Ratnasari dan Dede Yusuf. Dia pun menjadi bagian dari sinetron yang pernah booming di TVRI antara tahun 1989-1990 tersebut.

Sejak itu Cece keranjingan main film dan sinetron hingga akhirnya belajar teknik penyutradaraan film dan sinetron. Pekerjaannya sebagai sutradara ditekuninya sampai sekarang pada saat usianya telah mencapai 69 tahun.

Nama Cece indentik dengan Sri Asih. Memang dia mengawali kiprahnya di kelompok teater rakyat asal Sukabumi tersebut. Cece merupakan salah satu saksi hidup masa kejayaan dan masa-masa kejatuhan Sri Asih.

Pekerjaan pertama yang ditekuninya adalah pelukis poster untuk pertunjukan Sri Asih. Tahun 1969, waktu itu usianya belum genap 20 tahun. Judul-judul lakon sandiwara yang posternya dia lukis antara lain Lutung Kasarung, Perang Bubat, dan Sangkuriang Kabeurangan.  

Setahun kemudian, pada 1970 saat mana harga sepeda motor masih sekitar Rp100 ribu dan harga buku tulis bergambar artis Rp10, Cece mendapat tugas tambahan sebagai pemain. Dia mendapat peran sebagai ponggawa. Di kemudian hari istrinya Isum Sumiati menjadi salah satu juru sinden di kelompok sandiwara Sunda Sri Asih.

Honor yang diterimanya untuk sekali pentas Rp100 dan untuk melukis poster Rp75 peritem.  

Berita terkait: Soerawoeng Warna Sukses ‘Reinkarnasi’ Sandiwara Sunda Sri Asih

“Keluarga kami bersama para pemain dan anggota kelompok pertunjukan tinggal di Gedung Sri Asih yang terletak di Gang Elitan Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi,” tuturnya. 

Belasan tahun kemudian, tepatnya tahun 1984, Cece ‘naik jabatan’ menjadi pengawas pentas. Pekerjaan barunya ini membawa Cece pada tugas manajemen para pemain. Tapi melukis poster tetap ditekuninya.

Selanjutnya pada tahun 1987, dia diberi kepercayaan menjadi sutradara di kelompok sandiwara tersebut. Jabatan baru ini merupakan lompatan besar bagi Cece selama berkarier di Sri Asih bersama istrinya. Asalnya sutradara di grup sandiwara ini Endang Wakil yang nama populernya Mang Eher.  

Salah satu penghargaan yang diterima Cece Suhanda atas kiprah dan perjuangannya sebagai tokoh seni dan budaya.  

Pada 1989 gedung pertunjukan Sri Asih tertimpa musibah kebakaran. Semua aset dan properti milik Sri Asih habis dimakan api. Pasca bencana itu, para pemain dan awak Sri Asih ditampung di Kantor Kelurahan Gunungparang. Beberapa waktu kemudian, satu persatu awak Sri Asih meninggalkan kantor kelurahan dan mencari penghidupannya masing-masing.   

“Setahun kemudian pada 1990, saya bertemu dengan Kang Dedi Setiadi. Seterusnya perjalanan hidup saya mengikuti arus zaman dan bisa seperti sekarang,” ujar dia.

Darah seni yang mengalir pada aorta dan arteri tubuh Cece merupakan warisan dari ayah bundanya. Ayahnya Mohamad Hasan dikenal sebagai pelatih tari Sunda di Bandung, sedangkan ibundanya Emi Aminah adalah pemain tetap Sri Asih sejak tahun 1950-an. 

“Selanjutnya semangat berkesenian keluarga kami diteruskan oleh salah satu anak saya yang menjadi penata kamera di beberapa FTV dan sinetron. Anak saya menjadi penata kamera pada sinetrom Kian Santang,” kata Cece. (*)