Soerawoeng Warna Sukses ‘Reinkarnasi’ Sandiwara Sunda Sri Asih

oleh -

Wartawan Asep G. Yusup (Kang Speth)

Editor Wawan AS

Nama Sandiwara Sunda Sri Asih dan Dewa Bezana tidak asing bagi masyarakat Sukabumi. Kedua nama tersebut merupakan ikon seni Sukabumi:  Sri Asih dari zaman bihari sedangkan Dewa Bezana ikon seni dari masa kiwari. Antara Sri Asih dan Dewa Bezana yang akrab disapa Kang Dewa terdapat jembatan penghubung bernama Kelompok Seni Soerawoeng Warna.

“Untuk melestarikan seni yang dikembangkan Sandiwara Sunda Sri Asih, kami membentuk Kelompok Seni Soerawoeng,” kata Kang Dewa ketika ditemui di rumahnya di Perum Taman Asri Blok C7 Nomor 6 Keluahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Selasa (17/11/2020).

Kang Dewa merupakan bagian dari keluarga besar Sri Asih. Dia adalah cicit atau anak cucu dari pemain rebab Sri Asih bernama Abah Aga Sutarga dan istrinya Eyang Maryati yang merupakan pembawa laku. Kakeknya Aki Sunandi adalah penanggung jawab atau pengawas Sri Asih, sedangkan ibunya yang bernama Yeyet Sudaryati bertugas sebagai penjual tiket di gedung pertunjukan Sri Asih.

Melalui Soerawoeng Warna, Kang Dewa ingin melestarikan cabang-cabang seni yang dikembangkan Sri Asih. Sebagai kelompok sandiwara Sunda, Sri Asih mementaskan gabungan seni peran, seni teater, seni musik, dan seni lukis.

Kata Soerawoeng merupakan cara lain menulis surawung yang artinya kemangi. Sayuran yang memiliki aroma wangi paling khas tersebut biasa digunakan untuk bumbu pada berbagai jenis makanan seperti pepes ikan. Kemangi juga bisa dimakan mentah dengan sambal oncom atau sambal kacang. Macam-macamlah fungsi dan faedahnya, sangat berwarna. 

“Jadi kelompok seni Soerawoeng Warna bisa beradaptasi untuk mengembangkan cabang-cabang seni. Kelompok kami ini berawal dari sandiwara radio yang berkembang menjadi kelompok seni yang sekarang anggotanya telah mencapai 50 orang. Soerawoeng Warna didirikan tahun 2000,” jelas Kang Dewa.

Soerawoeng Warna tidak akan bisa lepas dari Sri Asih. Bagaimanapun Sri Asih telah menjadi bagian dari perjalanan seni dan sejarah budaya Sukabumi. Kelompok seni ini didirikan pada 1 April 1953 oleh Lili Suryana (almarhum). Sri Asih didedikasikan sebagai kelompok seni pentas drama tradisional Sunda yang ikut mengangkat nama Sukabumi ke berbagai daerah di Jawa Barat.

Semenjak berdirinya Sri Asih berkiprah total sebagai kelompok seni yang memberikan hiburan kepada masyarakat. Pada masa jayanya, Sri Asih sukses mempopulerkan cerita-cerita babad, legenda, roman, silat, horor, dan komedi. Untuk cerita hohor, grup sandiwara ini memiliki judul-judul andalan seperti Jurig Bongkok, Parebut Boeh, Kuntilanak Warudoyong, Beranak di Dalam Kubur, atau Bungaok ti Gunung Gede.

Berkat inovasi dan kreativitas para pemain dan pengatur laku, Sri Asih dapat bersaing dengan bioskop. Di tengah gempuran seni-seni impor seperti film India, orkes Melayu, musik pop, dan dangdut, Sri Asih dapat bertahan dan mempertahankan eksistensi sebagai seni tradisional rakyat.

Para pemain dan kru grup sandiwara tersebut berkumpul dan pentas di Gedung Sri Asih yang terletak di Gang Elitan Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi. Gedung Sri Asih bersebelahan dengan Bioskop Garuda. Sekarang tempat ini menjadi tempat parkir motor Citimall.

Tidak butuh waktu yang lama kelompok seni drama panggung tradisional ini berhasil menjadi ikon Sukabumi.  

Di tengah kiprahnya Sri Asih beberapa kali menjadi juara festival teater tradisional tingkat Jawa Barat. Otomatis kelompok ini mengangkat nama Kodya DT II Sukabumi ke tingkat provinsi. Selain itu, Sri Asih turut aktif  dalam mensosialisasikan program pembangunan. 

Pada 1976, Lili Suryana wafat. Pengelolaan Sri Asih diteruskan oleh istrinya Kurniasih, seniman tulen keturunan Tionghoa yang dibantu oleh anak-anaknya. Sri Asih terus berkibar di tengah percaturan seni dengan misi untuk melestarikan seni pentas khas Pasundan.  

Belasan tahun kemudian tepatnya tahun 1989 terjadi musibah, gedung pertunjukan Sri Asih terbakar habis. Semua peralatan karawitan dan kostum yang tersimpan di dalam lumat dimakan si jago merah. Setelah bencana itu, anggota Sri Asih tercerai berai, namanya meredup dan akhirnya bubar dengan sendirinya.

“Ada salah satu anggota Sri Asih yang masih aktif  berkesesian, namanya Kang Cece,” ungkap Kang Dewa. 

Kini kiprah Sri Asih dilanjutkan oleh Kang Dewa bersama rekan-rekan yang tergabung di dalam Kelompok Seni Soerawoeng Warna. Suami dari Tien F dan ayah dari 4 orang anak ini parigel  dan motékar dalam menyesuaikan seni pertunjukan Soerawoeng Murni dengan perkembangan seni kontemporer.

Kang Dewa Bezana, penerus semangat juang Sandiwara Sunda Sri Asih.

Kang Dewa memadukan waditra dari masa buhun dengan alat musik modern. Dari hasil perpaduan alat musik dari dua zaman berbeda itu lahirlah  Gending Fungky. Untuk seni ibing, Soerawoeng Warna menghasilkan kreasi D’mask  (Tari Topeng), Tari Korang Moci, dan drama tari Bentang Cikundul.

Dalam urusan prestasi Soerawoeng Warna sepertinya tidak mau ketinggalan oleh pendahulunya. Pada 2016, Kang Dewa dan kawan-kawan ikut festival teater tradisionil tingkat Jawa Barat. Alhamdulillah menjadi juara kesatu.

Begitu pula di level nasional, Soerawoeng Warna sukses naik pentas untuk pertunjukan berjudul Atret Jadi Potret. Mereka telah berkeliling ke berbagai daerah. Soerawoeng Warna pernah unjuk kemampuan di berbagai kota seperti Makassar, Jambi, Denpasar, Tarakan, dan Yogyakarta. 

“Kami akan terus berkiprah untuk mengangkat nama Kota Sukabumi di tingkat nasional,” kata seniman yang memiliki teteken atau tongkat berkepala naga itu. (*)