Kondisinya Masih Rawan Kecelakaan, Tanjakan Pasirsalam Hanya Dijaga Linmas

oleh -
Mobil angkutan umum jenis Elf harus merayap melewati tanjakan Pasirsalam karena jalurna licik dan berbatu-batu.

Wartawan Agus Setiawan

Editor Wawan AS

Kondisi jalan provinsi di Kampung Pasirsalam, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi masih tetap rawan kecelakaan. Setiap kendaraan yang datang dari arah Sagaranten menuju Kota Sukabumi harus merayap karena kondisi jalan licin dan sempit.

Sejak dilanda longsor dua tahun yang lalu, badan jalan di kawasan Pasirsalam hilang separuhnya karena tertimbun tanah. Bagian yang tertimbun tanah itu terletak di sebelah kanan dari arah Sagaranten. Karena lebarnya berkurang, jalan di Pasirsalam hanya bisa menampung satu mobil kendaraan dari satu arah.

“Sudah dua tahun, penggunaan jalan ini dengan sistem buka tutup. Mobil dari arah Sagaranten bergantian menggunakan jalan dengan kendaraan yang datang dari arah Sukabumi,” kata salah seorang warga yang tinggal di Kampung Pasirsalam, Ahad (1/11/2020) sore.

Untuk mengatur kelancaran arus lintas, pemerintah desa setempat menugaskan anggota Satuan Linmas (Perlindungan Masyarakat) berjaga di kedua arah. Para anggota Linmas inilah yang mengatur penggunaan jalan untuk mobil dari arah Sagaranten dan Sukabumi secara bergantian.

Bentangan jalan dari arah Sagaranten berupa tanjakan. Pada musim hujan seperti sekarang, jalan dipenuhi tanah bencek dan lumpur basah. Kendaraan harus berjalan perlahan dengan gerakan zigzag untuk menghindari batu dan lubang sepanjang sekitar 100 meter. Sejak dilanda longsor, lapisan aspal pada badan jalan tersebut hancur.

Pada Ahad sore, satu unit angkutan umum jurusan Sagaranten-Sukabumi jenis Elf harus menurunkan semua penumpangnya saat menanjak di Jalan Pasirsalam. Mobil ini sempat mundur tiga kali ketika melewati bagian jalan yang paling tajam tanjakannya.

Dalam gerakan mundur mobil miring ke kiri dan kanan. Para penumpang ketakutan, mereka memilih turun dari mobil dan berjalan kaki ke ujung tanjakan.

Bahkan truk pengangkut kayu nyaris terbalik pada saat melewati jalan yang licin dan berbatu-batu. Mobil truk itu sampai berputar hingga beberapa puluh derajat  dan melintang di jalan hingga  menghalangi mobil lain yang akan lewat.

“Kalau musim hujan, semua kendaraan yang menuju Sukabumi kesulitan untuk melewati tanjakan. Pemandangannya seperti ini, kami saksikan setiap hari setiap kali turun hujan,” ujar warga tersebut.

Saat ini pemerintah sedang membangun jalan alternatif  yang langsung tembus ke Buniayu melalui perkebunan teh. Selama jalan alternatif  belum selesai, semua kendaraan dari kedua arah harus melewati jalan yang ditimpa longsor secara bergantian. (*)