Terus Ditata, Gunung Bentang Menuju Objek Wisata Modern

oleh -
Lingkungan alam Gunung Bentang masih hijau dan alami dengan udara sejuk dan pemandangan yang memanjakan mata.

Wartawan Agus Setiawan Suryana

Editor Wawan AS

Keberadaan Gunung Bentang yang terletak di wilayah Desa Gunungbentang, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi sudah lama menjadi ikon lingkungan sekitar. Pada masa lalu, Gunung Bentang merupakan penanda kawasan Sagaranten dan sekitarnya. Para pengelana di zaman kerajaan menjadikan gunung ini sebagai patokan menuju Sagaranten dan Cidolog.

Dilihat dari pososinya, Gunung Bentang laksana paku bumi yang mengokohkan keberadaan permukiman warga di sekitarnya. Dari puncak Gunung Bentang, pemandangannya lepas ke segala arah hingga tampak 12 desa yang ada di Kecamatan Sagaranten. Sejak dulu, Gunung Bentang melegenda dan menyimpan catatan sejarah perjalanan masyarakat yang tinggal di bawahnya.

Tepat di bawah Gunung Bentang sebelah timur terdapat Desa Gunungbentang. Letaknya di sebelah selatan Sagaranten. Untuk sampai di gunung ini, jalannya masuk dari Baros Sagaranten menuju arah Cidadap. Jaraknya sekitar 4 kilometer dari Kantor Kecamatan Sagaranten dan sekitar 1,5 kilometer dari Kantor Desa Gunungbentang.

Belakangan nama Gunung Bentang menjadi bahan perbincangan publik setelah muncul rencana penataan tempat itu untuk dijadikan objek wisata milenial.

Di masa lalu, sampai beberapa tahun setelah Orde Reformasi, Gunung Bentang terkenal sebagai tempat bertapa. Di puncak gunung terdapat tempat tinggal seorang kuncen yang memegang otoritas alam gaib untuk memfasilitasi para petapa yang akan melaksanakan ritual pertapaannya.

Ada kuburan kuno di tempat itu. Para penggemar judi toto gelap atau togel gemar sekali mencari info dari jin Gunung Bentang tentang nomor yang akan keluar besok atau malam.   

“Banyak cerita-cerita misteri yang menyelimuti Gunung Bantang. Berdasarkan penuturan dari mulut ke mulut, pengunjung yang datang ke pertapaan harus mempunyai wudlu. Kalau batal wudlu, dia akan tersesat,” kata Sunardi, salah satu perangkat Desa Gunung Bentang kepada wartawan, Sabtu (17/10/2020).

Seiring dengan perkembangan zaman, pamor Gunung Bentang sebagai tempat bertapa semakin pudar dan surut. Para pengunjung dan masyarakat sekitar lebih suka menempatkan gunung ini sebagai objek wisata untuk melepas kepenatan sambil menikmati alam dan suasana pegunungan.  

Lingkungan di Gunung Bentang memang masih alami yang dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun dan aneka satwa liar di dalamnya.

Para pengunjung sering memergoki berbagai binatang di hutan Gunung Bentang seperti babi hutan, moyet jawa, surili, dan aneka jenis burung. Sepanjang hari, suara burung tidak henti-hentinya bersahutan dari bukit dan puncak pohon.

Pemerintah desa bekerja sama dan berkoordinasi dengan kehutanan dan instansi lain terus menata lingkungan Gunung Bentang untuk diubah menjadi destinasi wisata modern. Kini Gunung Bentang telah memiliki saung tradisional beratap ijuk, lapangan parkir, mushola, dan beberapa spot untuk selfie sebagai salah satu simbol peradaban milenial.

“Kami ingin memaksimalkan pengembangan objek wisata di Gunung Bentang. Namun belum bisa karena belum ada serah terima atau penunjukan pengelolaan secara resmi kepada desa,” kata Kepala Desa Gunungbentang,  H. Jajat Sudrajat. (*)