Korban Laka Lantas Tuntut Keadilan dari Penabraknya

oleh -
Rohmat kini hidup merana karena kakinya kanannya tidak dapat digerakkan dengan bebas akibat kecelakaan lalu lintas yang menimpanya pada akhir bulan Juli lalu.

Wartawan Oban Sobandi

Korban kecelakaan lalu lintas (laka lantas) bernama M. Rohmat Jaenudin warga Kampung Pondoktisuk RT 005 RW 008 Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi hanya bisa meratapi nasibnya. Kaki kanannya harus dipasangi kayu karena mengalami patah tulang dan luka. Rohmat tidak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. 

“Sebenarnya saya bercita-cita menjadi anggota TNI. Tapi dengan kondisi kaki seperti ini, saya tidak mungkin mewujudkan cita-cita tersebut,” kata Rohmat ketika ditemui di rumahnya, Selasa (25/8/2020).

Pemuda kelahiran bulan Juni tahun 2000 itu berasal dari keluarga yang pas-pasan. Kondisi rumah orang tuanya sangat sederhana dengan peralatan seadanya. Hanya satu harapannya, dia dibantu oleh penabaraknya agar dapat mengobati kakinya hingga sembuh.

“Saya sudah berulang kali memohon kepada penabrak yang bernama Pak Oman agar dapat membantu saya. Namun beliau belum berkenan,” tutur Rohmat.

Petaka laka lantas yang menimpa Rohmat terjadi di Jalan Raya Sukabumi, Kampung Samoja, Desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur pada Senin, 29 Juni 2020 lalu. Waktu itu dalam perjalanan ke arah Cianjur, sepeda motornya tertabrak oleh kendaraan yang dikemudikan oleh Oman. Rohmat terjatuh beserta motor yang ditumpanginya.

Selanjutnya dia mendapat perawatan di rumah sakit. Pihak Oman sebagai menabrak memberikan bantuan berupa biaya pengobatan di rumah sakit sebesar Rp900 ribu dan uang sebesar Rp500 ribu sekeluar dari rumah sakit.  

Waktu berlalu, hampir dua bulan kemudian, Oman tidak pernah menjenguk Rohmat di Balekambang, Nagrak. Padahal dia pernah berjanji akan datang menengok ke rumah Rohmat. Tapi sampoai sekarang, Oman belum datang ke Kampung Pondoktisuk.

“Saya pernah menanyakan janji beliau melalui WA, namun beliau tetap tidak datang,” ujar Rohmat.

Rohmat dan ibundanya.  

Pada Sabtu (22/8/2020) lalu, LSM dan wartawan mendatangi rumah Oman di Kecamatan Cisaat untuk mengetuk hatinya agar bersedia membantu Rohmat yang membutuhkan dana untuk mengobati kakinya. Namun Oman menyatakan, urusan tabrakan itu sudah selesai berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani bersama.

Dia pun memperlihatkan surat kesepakatan yang isinya antara lain Oman hanya bertanggung jawab atas biaya pengobatan di rumah sakit. Oman telah menunaikan kewajibannya dengan memberikan bantuan untuk membayar biaya pengobatan.

Ketika surat itu ditanyakan kepada Rohmat, yang bersangkutan menyatakan, dia menandatangani kesepakatan dalam keadaan sakit. Rohmat tidak membaca poin per poin dari surat kesepakatan tersebut.

“Saya menandatangani kesepakatan tanpa membaca isinya. Ketika pembuatan surat di kepolisian, saya tidak ikut berkumpul di dalam ruangan. Hanya saksi dari saya dan Pak Oman yang berada di dalam ruangan,” jelas Rohmat.

Dia sadar, dirinya bukan apa-apa dibandingkan Oman yang aktif di sebuah lembaga besar. Karena itu Rohmat meminta bantuan kepada LSM dan wartawan untuk menghubungi Oman. Ketika Oman menolak permintaannya, Rohmat pun tidak dapat berbuat banyak. Dia hanya bisa menangis di dalam hati. (*)