Ketiban Berkah, Museum Prabu Siliwangi Menerima Batu Replika Jejak Rasulullah

oleh -
Pengelola Museum Prabu Siliwangi, KHM. Fajar Laksana (kiri) menjelaskan koleksi benda kuno dari jenis senjata para karuhun.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Seperti mendapat durian runtuh, Museum Prabu Siliwangi yang terdapat di Kompleks Pesantren Dzikir Al-Fath menerima kiriman batu replika jejak kaki manusia mulia Nabi Muhammad SAW. Batu replika tersebut berasal dari negeri yang merupakan salah satu pusat peradaban Islam yaitu Turki.

“Kami menerima batu replika jejak kaki Rasulullah dari sebuah komunitas di Turki. Mereka mempercayai museum kami sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah asal Turki,” kata pemilik Museum Prabu Siliwangi yang juga pimpinan Pesantren Dzikir Al-Fath, KHM. Fajar Laksana kepada wartawan, Kamis (6/8/2020).

Selain itu, komunitas budaya dan museum di Turki juga mengirimkan replika tempat minum Nabi, panah, pisau khas Turki, dan peralatan rumah tangga. Tidak sembarang museum mendapat kepercayaan untuk menyimpan benda-benda bersejarah tersebut, ujar Fajar. Karena itu, bertambahnya koleksi dari Turki dapat meningkatkan martabat dan derajat Museum Prabu Siliwangi.

“Ini merupakan penghargaan dan kepercayaan kepada kami dari komunitas budaya di Turki. Kami harus menjaga kepercayaan dari mereka,” kata dia.

Dengan hadirnya benda-benda kuno dari Turki, koleksi museum yang berlokasi di Perumahan Gading Kencana Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi itu semakin beragam. Fajar bertekad untuk terus mengumpulkan benda-benda bersejarah dari seluruh penjuru dunia.

Fajar sudah bolak-balik empat kali ke Turki untuk mempererat korespondensi dan relasi dengan kolektor benda bersejarah di negeri yang pernah menjadi pusat Kekhalifahan Utsmaniyah tersebut. Dengan mereka, Fajar tukar-menukar koleksi museum.

“Kalangan kolektor benda bersejrah di Turki mendorong kami untuk menyimpan dan menjaga benda-benda peninggalan dari masa Kerajaan Pajajaran. Mereka juga mengapresiasi kami yang memposisikan diri sebagai museum untuk pendidikan, bukan untuk bisnis,” tuturnya. (*)