Ex Kabid Tegaskan, Penentuan Granit untuk Trotoar yang Rusak Sudah Prosedural

oleh -
Suhendar Syarief, mantan Kabid Bina Marga Dishub yang kini menjadi Kabid Pengendalian dan Pengawasan Lingkungan pada DLH Kota Sukabumi.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Mantan Kepala Bidang Bina Marga Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Sukabumi, Suhendar  Syarief menegaskan, penentuan granit sebagai bahan untuk trotoar sudah prosedural dan melalui pertimbangan teknis. Suhendar menandaskan hal itu untuk mengklarifikasi pendapat pejabat penggantinya Lutpi Alip yang menyatakan, kerusakan pada trotoar terjadi karena bahannya granit.

Menurut Lutpi, bahan yang digunakan seharusnya andesit yang lebih kuat menahan beban kendaraan. Suhendar menyanyangkan penyataan Lutpi yang seharusnya tidak menyudutkan orang lain. Ketika menjabat Kabid Bina Marga yang juga PPK (Pejabat Pembuat Komitmen), Suhendar menyatakan dirinya selalu memenuhi tugas dan kewajiban sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.

“Tidak ada istilah salah pemilihan material karena semuanya sudah melalui kajian teknis. Seharusnya sudah ada pemeliharaan secara kontinyu agar fungsi trotoar dan estetikanya terjaga,” kata Suhendar kepada wartawan, Selasa (30/6/2020).

Sekarang Suhendar menjabat Kabid Pengendalian dan Pengawasan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi. Pekerjaan pembangunan trotoar di sejumlah ruas jalan yang dilaksanakan tahun 2018 dapat diselesaikan dengan baik. Buktinya, kata Suhendar, hasil pemeriksaan oleh BPK RI menyatakan pekerjaan itu clear, tidak ada temuan.    

“Kegiatan pembangunan trotoar ini telah diperiksa BPK. Kalau ada plus minus misalnya kelebihan pembayaran, itu selalu ada. Semuanya diselesaikan. Kita sudah melalui semua proses itu,” tutur Suhendar.   

Berita terkait: Pakai Granit, Belum Setahun Trotoar Banprov Sudah Amburadul

Sebelumnya diberitakan, beberapa ruas trotoar yang dibangun dengan dana dari provinsi dalam keadaan rusak. Kerusakan trotoar terjadi di beberapa ruas jalan seperti  Jalan Surya Kencana, depan Kantor Inspektorat, dan Jalan RE. Martadinata.  

“Trotoar itu dibangun pada waktu yang bersamaan. Sebelum pembangunan dimulai dilaksanakan rapat teknis untuk pemilihan bahan material,” kata dia.

Jadi, lanjut Suhendar, pemilihan bahan diputuskan dalam rapat melalui diskusi dan berbagai pertimbangan. Selama menjabat, dia sering menangani pembangunan trotoar yang hasilnya selalu dijadikan bahan kajian. Bukan kali itu dia menangani pembangunan trotoar.  

“Sebenarnya ada juga pemikiran untuk mengecilkan ukuran granit agar tidak pecah karena ukuran granit 60 cm x 60 cm mudah pecah. Granit ukuran kecil dipasang pada bagian yang sering dilalui kendaraan,” jelasnya.

Tapi pemikiran itu tidak dilaksanakan dan Suhendar menyayangkan hal ini.  Diakui Suhendar, hancurnya trotoar diakibatkan oleh kendaraan. Trotoar di Jalan Surya Kencana tingkat kerusakannya lebih parah dibanding jalan lainnya. Penyebabnya jalur trotoar di jalan ini sering dilalui kendaraan untuk akses ke dalam rumah, pertokoan, atau kantor.

“Sedangkan fungsi trotoar jelas untuk pejalan kaki bukan kendaraan,” tambahnya.

Tonase kendaraan yang lewat kadang-kadang melebihi kapasitas trotoar.  Di sisi lain, dia mengakui ada bagian-bagian tertentu yang pekerjaannya kurang mantap.

Model trotoar yang dibangun tahun 2018 itu berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dulu bentuknya naik turun, yang sekarang hampir rata dengan badan jalan untuk memberikan kenyamanan kepada pejalan kaki.

“Konsekuensi kendaraan menjadi mudah naik. Terkadang ada juga kendaraan yang parkir dengan sebelah rodanya di badan jalan dan sebelah lagi naik ke atas trotoar,” kata Suhendar.

Sebenarnya konsekuensi itu sudah dipikirkan sehingga memunculkan ide menempatkan pot tanaman untuk menghalangi kendaraan. Namun Bidang Bina Marga tidak dapat mengusulkan pengadaan pot-pot tersebut karena bukan urusan prasarana, melainkan sarana pelengkap. (*)