Pesantren Al-Fath Wajibkan Santri dari Zona Merah Bawa Surat Keterangan Sehat

oleh -
Para santri senior di Pesantren Dzikir Al-Fath melakukan berbagai persiapan dan pembenahan untuk menyambut tahun pelajaran 2020-2021.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Menyambut tahun pelajaran 2020-2021 yang jatuh pada 13 Juli mendatang, Pesantren Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi melakukan berbagai persiapan dan persyaratan untuk menyambut para santri kembali ke pondok di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Salah satu persyaratan yang diberlakukan pondok adalah kewajiban bagi santri yang berasal dari zona merah untuk membawa surat keterangan sehat untuk memastikan mereka terbebas Covid-19. 

Sejak sekitar dua bulan lalu seluruh santri Pesantren Dzikir Al-Fath dipulangkan ke rumahnya masing-masing. Mereka pulang ke berbagai daerah dalam rangka pelaksanaan social distancing untuk mencegah penyebaran Virus Corona.  

“Tahun ajaran baru para santri kembali ke pesantren untuk melanjutkan pelajaran. Mereka yang berasal dari zona merah harus membawa surat keterangan sehat. Ketika akan masuk pesantren, mereka juga akan diperiksa suhu tubuhnya,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath KHM. Fajar Laksana kepada wartawan, Senin (29/6/2020).

Pesantren yang terletak di Perum Gading Kencana Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi itu siap menyambut tahun pelajaran baru dengan aturan AKB atau new normal.

“Beberapa hari lalu kami didatangi tim dari Badan Intelejen Negara yang memberikan edukasi kepada para santri senior, para mentor, dan guru tentang perilaku di masa AKB,” tutur Fajar. 

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di masa AKB, lanjut dia, para guru dan santri tetap beraktivitas seperti biasa namun dengan memperhatikan kondisi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan serta fokus pada upaya pencegahan penyebaran Covid-19. 

Fajar juga mengatakan, sistem pembejalaran jarak jauh (PJJ) secara online menimbulkan kekhawatiran pada dirinya terhadap kemajuan para santri, khususnya  untuk pelajaran Al-Quran karena tidak dibimbing langsung oleh para mentor dan guru. Bagaimanapun KBM dengan sistem tatap muka lebih efektif dibandingkan PJJ.  

“Pembelajaran kepada para santri itu mengutamakan akhlak dan perilaku. Di rumah orang tua tidak bisa menjadi ustadz. Jadi ketika para santri kembali ke pesantren kami harus mengevaluasi para santri dari pembelajaran sistem online. Untuk itulah kami melakukan berbagai persiapan,” ujarnya.  

Persiapan lain yang dilakukan Pesantren Al-Fath adalah menyediakan alat pengukur suhu tubuh, wastafel untuk mencuci tangan, dan alat semprot untuk cairan Biosin 36 untuk membunuh kuman Corona.

Sementara ini Pesantren Al-Fath belum bisa memulai pembelajaran untuk tingkat PAUD dan SD karena anak-anak pada usia tersebut rawan terpapar penyakit menular. (*)