Brand Teluh Jampang, Industri Kreatif Barudak Pajampangan

oleh -
Salah satu Dara Jampang menapi hanjeli untuk dijadikan bahan pangan alternatif sumber karbohidrat.

Oleh Asep Hidayat, praktisi dan penggiat pariwisata *)

Berbicara tentang Jampang pasti selalu menarik untuk diceritakan. Kawasan ini memiliki kekayaan alam berupa keragaman geologi dan biodiversity yang sangat luar biasa. Jampang juga memiliki sejarah panjang tentang perjalanan masyarakat yang dinamis termasuk kehidupan para jawara yang kesaktiannya tersohor ke seluruh Indonesia.

Banyak orang sakti di Pajampangan, baik kesaktian lahir yang kasat mata maupun kesaktian yang tidak tampak secara fisik atau goib. Di antara dua jenis kesaktian itu, jenis yang paling sering menjadi pembicaraan adalah yang tidak terlihat. Orang-orang berseloroh, terkadang banyak orang minder duluan kalau membicarakan Jampang.  Penyebabnya orang Jampang sakti-sakti.

Konon, pada zaman dulu, kalau ada seseorang yang ditolak cintanya, dia akan datang ke Jampang untuk meminta bantuan pada orang ‘sakti’ untuk membuat buah hati yang dipujanya takluk dan bertekuk lutut di hadapannya. Tentu saja, kisah seperti itu sekarang tinggal legenda dan sudah ditinggalkan oleh orang Jampang masa kini.

Jampang saat ini sudah bertransformasi menjadi satu kawasan yang memiliki ciri khas dan potensi alamnya yang sangat luar biasa kaya dan permai. Dulu kalau ingin memikat seseorang, orang Jampang harus menggunakan cara atau ritual khusus supaya mereka datang. Tapi, sekarang orang datang berduyun-duyun  ke Jampang karena dipélét oleh keindahan alamnya yang mempesona dan industri kreatif  Barudak Jampang yang sudah termasyhur.

Perkembangan paling mutakhir, industri kreatif di Jampang tidak terlepas dari peran pemuda. Dari tangan merekalah lahir berbagai inovasi yang mengagumkan. Salah satu karya yang inovatif dan kreatif lahir dari tangan inovator ulung bernama Kang Fery Irawan yaitu brand Teluh Jampang.

Brand the Legend of Teluh Jampang menjadi salah satu barometer bagi industri lokal yang sedang menggeliat dan memiliki nilai jual yang tinggi. Teluh Jampang sebetulnya singkatan dari Tetekon Luhur Pajampangan yang memberikan pelajaran bahwa orang Jampang harus punya utek dan itek atau pedoman hidup yang sesuai dengan ajaran leluhur dan kearifan lokal.

Selanjutnya seluruh SDM di Jampang melakukan rebranding nama Teluh Jampang. Pada masa lalu Jampang terkenal karena hal-hal buruknya saja seperti ketertinggalan dalam segala hal termasuk SDM. Tapi, saat ini citra tersebut sudah mulai pudar dengan sendirinya. Jampang masa kini mempunyai potensi SDM dan SDA yang masuk kategori mumpuni.

Potensi-potensi tersebut selalu muncul dan disajikan pada hasil kreasi para putra dan putri Jampang. Tema yang diangkat dalam kaos Teluh Jampang selalu menampilkan kearifan dan budaya lokal serta keindahan alam Jampang.

Jaka dan Dara Jampang dalam kunjungan ke Desa Wisata Hanjeli.

Baru-baru ini terbangun kolaborasi antara Teluh Jampang dan Desa Wisata Hanjeli. Tim Teluh Jampang berkunjung ke situs eduwisata pertanian pangan tersebut. Pada kunjungan itu, ponggawa Teluh Jempang membawa serta Jakadara Pajampangan yang tiada lain pemenang dalam kontes pemuda dan pemudi Pajampangan. Mereka datang untuk tugas liputan dan mengangkat tema tentang hanjeli yang memiliki ciri khas sebagai potensi keragaman pangan.

Desa Wisata Hanjeli terletak di Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi. Hanjeli adalah tanaman serealia yang merupakan salah satu pangan lokal dengan perjalanan sejarah diversifikasi pangan yang panjang. Saat ini hanjeli sudah mulai dikenal melalui produk olahan dan menjadi objek wisata. Bahkan Desa Wisata Hanjeli merupakan eduwisata pertama di Indonesia. (*)

*) Penulis adalah Owner/Founder/CEO dari Hayukasukabumi, Desa Wisata Hanjeli, Wisata Alam Sukabumi, dan Hanjeli Abah ASEP.