Orang Tua Keluhkan Kewajiban Membeli Buku LKS

oleh -
Saepul Anwar, salah satu orang tua yang harus membeli buku LKS untuk mendukung sistem belajar di rumah bagi anaknya.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Sejumlah orang tua siswa di salah satu SD negeri di Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi mengeluhkan penjualan LKS oleh pihak sekolah. Mereka berkeluh kesah karena harus membayar sejumlah buku LKS dengan total harganya Rp220 ribu. Kontan!

Setahu para orang tua, LKS itu harusnya dibikin oleh guru, bukannya disiapkan dalam bentuk buku buatan penerbit yang dijual kepada siswa. Lagi pula, jika penerbitnya dari luar daerah apalagi luar provinsi, materi di dalam LKS tidak akan mendukung muatan lokal.   

Keluhan mereka juga berdasarkan fakta saat ini bahwa sebagian besar masyarakat sedang dalam keadaan susah akibat wabah Covid-19. Pada saat pemerintah menggulirkan berbagai program untuk mengurangi beban masyarakat, sekolah tersebut malah menjual LKS dengan harga ratusan ribu.

“Ini kita sedang kesulitan. Jangankan buat bayar-bayar di luar kebutuhan utama, bahkan buat makan sehari-hari pun kami semua kesulitan karena dampak dari Virus Corona,” kata Saepul Anwar, warga Kecamatan Cikole kepada wartawan, Senin (20/4/2020).

Karena khawatir anaknya tidak bisa belajar dan tidak mendapat nilai dari gurunya, Saepul pun membeli paket buku LKS tersebut. Dia membayar buku LKS tersebut dengan memotong tabungan anaknya. Masa berlaku paket LKS tersebut untuk satu semester.

“Awalnya saya datang ke sekolah untuk menanyakan perkembangan kegiatan belajar mengejar melalui online. Saya tidak memahami teknologi untuk mengikuti pelajaran melalui internet. Oleh sekolah saya diharuskan membeli buku LKS,” ujar Saepul sambil memperlihatkan kuintansi pembayaran LKS.  

Sebagai warga negara yang mencari rezeki sebagai penyedia jasa ojek online, Saepul merasa keberatan dengan kewajiban membeli buku LKS tersebut. Apalagi dalam satu tahun anaknya harus membeli buku LKS sebanyak dua kali.

“Anak saya yang satu disekolahkan di Kabupaten Sukabumi. Di sekolahnya tidak ada keharusan membeli buku LKS,” kata dia.

Saepul meminta perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Sukabumi terhadap kesulitan para orang tua siswa yang harus membeli buku LKS. Sebaiknya, kata dia, penjualan buku LKS itu dilarang karena memberatkan para orang tua.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa orang tua,  para guru di sekolah tersebut menjadikan buku LKS yang dijualnya sebagai patokan dalam mengajar para siswa yang belajar di rumah. Dia hanya menyuruh para siswa mengerjakan LKS lewat pesan dari dadget tanpa memberikan pemahaman secara detail dari materi pelajaran yang diajarkan. 

“Saya minta penjelasan dan kejelasan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terkait aturan sekolah yang mewajibkan siswa beli LKS,” tutur Saepul. (*)