Pedagang Ikan di TPI Palabuhanratu Sepi Pembeli

oleh -
Transaksi ikan basah di TPI Palabuhanratu terlihat lesu sejak awal 2020, padahal harga ikan relatif stabil.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Para pedagang ikan yang menggelar dagangan di sekitar TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi sedang mengalami kelesuan ekonomi. Lapak mereka sepi pembeli.

Menurut salah seorang pedagang ikan, Indra, penurunan penjualan ikan telah terjadi sejak awal tahun 2020. Rata-rata omset penjualan para pemilik lapak ikan anjlok hingga 60 persen dibandingkan kondisi normal. Padahal harga ikan relatif stabil, bahkan beberapa jenis ikan mengalami penurunan harga.   

“Lagi sepi, bukan susah ikan akan tetapi susah pembelinya. Kalau stok ikan cukup, banyak jenis-jenisnya,” kata Indra ketika ditemui di lapaknya, Sabtu (22/2/2020).

Indra menjual berbagai jenis hasil tangkapan laut per 1 kilogram untuk udang lobster dengan harga Rp120 ribu, sebelumnya antara Rp180 sampai Rp200 ribu, udang biasa Rp100 ribu, ikan tuna Rp30 ribu, bawal putih Rp250 ribu-Rp300 ribu/kg, cumi besar Rp25 ribu/kg, cumi kecil Rp40 ribu, dan kepiting laut Rp80 ribu.

“Biasanya para pembeli memburu ikan tuna, layur, udang, dan cumi,” ujar dia.

Karena sepi pembeli, Indra dan rekan-rekan sesama penjual ikan basah lebih banyak melamun dibandingkan bekerja. Mereka merindukan datangnya saat-saat pembeli menyerbu kiosnya untuk memborong aneka jenis ikan.  

Sementara itu salah seorang pembeli ikan, Lisnawati warga Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi mengatakan selalu berkunjung ke TPI setiap kali berlibur di Palabuhanratu. Ada kepuasaan tersendiri ketika membeli ikan di tepi pantai dan langsung memasaknya.

“Hari ini saya membeli ikan tuna, cumi, dan udang untuk disantap di pinggir pantai. Dari rumah hanya membawa bekal nasi,” kata Lisnawati yang berlibur bersama suami dan dua anaknya.

Harga ikan di Palabuhanratu, kata dia, masih dalam batas wajar. Dengan harga yang lumrah, pembeli bisa memperoleh ikan yang segar tanpa bahan pengawet. Sebenarnya, ujar Lisnawati, touringnya bakal lebih seru jika membeli ikan dari nelayan yang baru pulang dari laut. (*)