Museum Prabu Siliwangi Temukan Kapak Abad XI

oleh -
Pimpinan Museum Prabu Siliwangi, KHM. Fajar Laksana (tengah) ketika meninjau salah satu situs suci dari masa lalu di Kampung Batuasih, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Tim khusus dari program Nyucruk Galur Mapay Situs Museum Prabu Siliwangi (MPS) Sukabumi berhasil menemukan kapak batu yang diperkirakan berasal dari abad XI. Diyakini kapak batu tersebut ada kaitannya dengan zaman Kerjaan Sunda di bawah kepemimpinan raja ke-20 yakni Sri Jayabupati yang memerintah dari 1030 sampai dengan 1042 Masehi.

Lokasi penemuan di Kampung Batuasih, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.  “Di Kampung Batuasih, kami juga menemukan berbagai benda kuno dan situs-situs suci yang ada hubungannya dengan masa lalu Kerajaan Sunda,” kata Pimpinan MPS, KHM. Fajar Laksana kepada wartawan, Sabtu (30/11/2019).

Kapak batu ditemukan dalam kondisi terpendam di dalam tanah. Fajar yakin, masih banyak benda-benda bersejarah lainnya yang masih terkubur di dalam tanah. Suatu saat nanti, benda-benda kuno tersebut akan terangkat ke permukaan dan dapat dilihat oleh masyarakat. 

“Di Kampung Batuasih juga terdapat banyak legenda dan situs-situs yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata. Salah satunya adalah keberadaan batu peti,” ujar Fajar.

Batu peti, jelas dia, telah menjadi legenda di Kampung Batuasih. Sesepuh kampung bernama Abah Anda mendengar penuturan orang tuanya yang menyatakan batu tersebut merupakan tempat perkakas milik Raja Sri Jayabupati. Menurut sesepuh lembur, bahan dasar untuk prasasti Batu Tulis di Bogor berasal dari batu peti tersebut.

Ada lagi Mata Air Ciasih. Dari keterangan yang didengar Fajar dari Tatang, warga Desa Sekarwangi, mata air tersebut merupakan mandi dan minum Sri Jayabupati. Salah satu keunikan dari mata air ini, semua ikan yang hidup di dalam kubangan di sekitar tempat itu berwarna putih.

“Lalu ada lagi air terjun yang cukup Indah. Di tempat ini ditemukan sisa-sisa fondasi pembangkit listrik tenaga air dari zaman Belanda. Oleh orang Belanda, energi listrik dari air terjun dialirkan ke perkebunan do Gunung Walat,” terang Fajar.

Selanjutnya goa yang dalamnya terdapat sungai, bernama Guha Cisurupan. Menurut legenda, lorong goa ini tembus sampai ke Guha Kutamaneuh di Desa Cikujang Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi dan Guha Gunungkarang di Kota Sukabumi.

“Pak Tatang pernah masuk ke dalam Guha Cisurupan. Kata beliau pemandangan di dalamnya sangat indah, di dekat pintu goa ada aliran air. Ini goa disebut Cisurupan karena kalau orang yang masuk ke dalamnya tanpa berdoa akan mengalami kesurupan,” kata Fajar.

Keunggulan lain dari Kampung Batuasih adalah pemandangannya yang indah dan permai. Di kampung ini ada  Gunung Walat dan Puncak Batuasih yang diselingi pesawahan. Tokoh masyarakat di Kampung Batuasih berencana akan membangun Museum Sri Jayabupati untuk menampung benda-benda kuno yang ditemukan di sekitar kampung tersebut. (*)