Mahasiswa Torikoh Menggelar Diskusi Menangkal Radikalisme

oleh -
Suasana diskusi publik di Ponpes Al-Muhajirin 3 Purwakarta dengan tema pencegahan radikalisme dan ekstremisme.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Mahasiswa Alhith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) dan Ponpes Al-Muhajairin 3 Purwakarta menggelar diskusi interaktif bertema pentingnya tasawuf dan Islam rahamatan lil alamin dalam menangkal radikalisme dan ekstremisme, Rabu (27/11/2019). Pada diskusi yang digelar di Aula Pesantren Almuhajirin 3 Citapen, Purwakarta itu dihadirkan sejumlah narasumber dari berbagai kalangan.

Tampil sebagai moderator pada diskusi itu Ustadz Okta Riadi, S.Hum. dengan pembawa doa tawasul Ust. Bayu Mahbuby, Lc. Sohibul baith, KH. Anang Nasihin, MA selaku Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin 3 yang juga ketua panitia menyampaikan sambutan dan pemaparan pada giliran pertama.

“Diskusi ini bertujuan untuk menanamkan kecintaan yang lebih dalam pada umat Islam terhadap khazanah keilmuan Islam. Kita dapat mengkaji tasawuf untuk menangkal radikalisme dan ekstrimisme demi kemaslahatan dan keselamatan bangsa,” ujar Anang.

Di tempat yang sama, dalam cerahamnya, Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin 1 Purwakarta, KH. Marfu Muhyidin Ilyas, MA menguraikan makna QS Al-Anbiya ayat 107. Menurut Marfu, yang menjadi rahmat bagi semesta alam adalah diri Rasulullah SAW. Islam, kata dia, pasti melekat dengan Rasulullah. Dengan demikian, otomatis Islam juga rahmatan lil alamin. 

“Jika ada pihak yang memperkenalkan Islam dengan cara-cara yang tidak baik atau tidak rahmatan lil alamin yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, maka kelompok tersebut patut dipertanyakan,” ujar Marfu.

Rasulullah, lanjutnya, selalu mengedepankan kasih sayang sekalipun kepada yang membencinya. Di mana pun dan kapan pun Rasulullah selalu menebar kasih sayang. Kata Imam Nawawi, tutur Marfu, dakwah itu harus lemah lembut dan santun sesuai dengan dakwah yang dicontohkan Nabi Muhammad.

“Rahmatan lil alamin merupakan jantungnya tasawuf. Karena itu ajaran tasawuf dapat diandalkan untuk mencegah radikalisme. Sudut pandang hakikat tasawuf adalah melihat ke dalam, bukan pada cangkang atau kemasan. Cara inilah yang bisa membawa kita tidak bersikap radikal atau tidak kasar kepada orang lain,” tutur dia.

Sementara itu Ketua PC MATAN Purwakarta Dr. H. Sri Muldriyanto, M.Pd. mengatakan, peranan tasawuf dalam  menghadapi radikalisme adalah dalam kontra radikalisme yang merupakan akar dari terorisme. Tasawuf, kata dia, adalah jalan untuk cinta dan pembiasaan. Tunjuannya adalah untuk membangun cinta. Jadi cinta adalah inti dari tasawuf.

Ketua PCNU Purwakarta, KH. Drs Bahir Mukhlis dalam ceramahnya mengatakan, para ahli toroqoh dan NU di Kabupaten Purwakarta berkomitmen untuk menjaga keutuhan NKRI dan merawat kebhinnekaan. Dia mengajak umat Islam untuk bersama-sama bertorikoh dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin guna menangkal paham radikalisme dan ekstremisme yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Staf Binmas Polres Purwakarta, Aiptu Ajat Sudrajat menjelaskan,  secara umum radikalisme  meliputi radikalisme agama yang ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara.  Ada lagi radikalisme sekuler yang ingin memisahkan Pancasila dari agama. Cara mencegah radikalisme antara lain dengan memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum.

“Langkah lainnya meminimalkan kesenjangan  ekonomi dan sosial, menjaga persatuan dan kesatuan, serta menjalin komunikasi dan interaksi yang baik di tengah masyarakat,” ujar Ajat.  

Kepala Kesbangpol Purwakarta, Drs. Uus Usna, M.Si. mengatakan, sebagai daerah lintasan ibu kota dan provinsi, Purwakarta memiliki dampak positif dan negatif.  Dia mengharapkan kaum milenial Indonesia khususnya Purwakarta tidak terkontaminasi oleh hal-hal negatif yang dapat merusak bangsa dan negara.

Sementara Kapolsek Sukatani, Purwakarta, AKP Sugih Harto dalam sambutannya mengajak kaum milenal dalam menjalankan hak dan kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini agar tidak menjadi bagian dari pelaku radikalisme dan ekstremisme. (*)