Perbedaan Pandang Umat Rasulullah Merupakan Rahmat

oleh -
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Baitunnur, Pati, Jawa Tengah dengan penceramah KH. Nadhif Abdul Mujid.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Perbedaan pandang dalam menafsirkan ajaran agama Islam di antara umat Rasulullah SAW merupakan rahmat yang patut disyukuri bersama. Jangan sampai perbedaan tersebut menimbulkan perpecahan dan memberikan ketidakpastian dengan menakuti-nakuti orang lain berdasarkan dalih-dalih agama oleh kelompok tertentu.

Saat ini ada sekelompok orang keblinger yang menganggap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka sebagai penganut aliran sesat. Itulah salah satu ciri kelompok radikal.

Hal disampaikan oleh pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, KH. Nadhif Abdul Mujid dalam acara Maulidur Rosul SAW yang diselenggarakan oleh Remaja Masjid Agung Baitunnur, Pati, Jawa Tengah (23/11/2019). Menurut Kiai Nadhif, membuat panik seorang muslim dengan tuduhan kafir atau sesat merupakan kezaliman yang besar. Para penuduh ini bertingkah laku layaknya teroris.

Dalam kitab Al-Musnad,  Imam Ahmad menceritakan bahwa pada suatu ketika salah seorang sahabat Nabi dikerjain oleh sahabat yang lain dengan menyembunyikan tombak sahabat tersebut. Pada saat bangun, sahabat tersebut menjadi panik karena tombaknya hilang.

“Lalu  Rasulullah SAW bersabda ‘Janganlah kamu sekalian menakut-nakuti orang Islam karena sesungguhnya membuat ketakutan atau kepanikan orang Islam adalah kedzaliman yang besar,” jelas Kiai Nadhif. 

Kelompok orang yang suka membuat panik orang Islam dengan berbagai tuduhan kafir atau sesat bisa dikategorikan sebagai kelompok terorisme. Biasanya, kata dia, kegemaran menakut-nakuti orang Islam diawali dengan sikap ekslusif yang disusul dengan membidahkan orang lain.

“Lalu mengkafirkan umat Islam yang berbeda pandangan dengan mereka dan diakhiri dengan peledakan. Itulah teroris,” ujar dia.

Ada ungkapan dalam bahasa Arab, ujar Kiai Nadhif, yang berbunyi, jika anda kehilangan emas, maka anda dengan mudah akan mendapatkan gantinya di toko. Jika anda kehilangan kekasih, maka dalam setahun mungkin saja anda akan mendapat kekasih yang  lain. Akan tetapi jika anda kehilangan negara dari mana anda akan medapatkan ganti negara yang hilang. 

“Dulu kita pernah kehilangan kedaulatan di negara sendiri ketika  dijajah oleh Belanda. Dengan perjuangan para pendahulu dan pahlawan-pahlawan kita, kemerdekaan dapat kita rebut kembali. Negara yang didirikan oleh para pahlawan tidak boleh hilang oleh tindakan-tindakan yang memecah belah bangsa,” ujar Kiai Nadhif.

Tugas anak bangsa saat ini, lanjut dia, adalah mengisi kemerdekaan. Jangan sampai anak bangsa terbawa oleh pemikiran menyimpang yang membenturkan agama dengan negara. Agama tidak bisa dibenturkan dengan negara karena masing-masing punya jalurnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kata dia, seluruh kalangan anak bangsa harus siap dan bersedia menjaga keutuhan NKRI. (*)