Literasi Budaya Bukan Sekadar Membaca dan Menulis

oleh -
KHM. Fajar Laksana

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Literasi budaya di kalangan anak sekolah bukan sekadar masalah membaca dan menulis, melainkan lebih luas dari itu yakni para siswa bisa mengaplikasikan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu dalam mengajarkan literasi, para siswa harus didekatkan pada literatur-literatur dan nilai-nilai budaya, khususnya Sunda.

Hal itu disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, KHM. Fajar Laksana saat ditemui wartawan, Selasa (8/10/2019). Literasi budaya, kata dia, merupakan aplikasi dan implementasi nilai-nilai filosofi dan konsep yang kemudian dipraktikkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Literasi budaya itu mempraktikan filosofi yang dalam hal ini kami menggali etika dan filosofi Sunda,” ujarnya.

Filosofi Sunda yang dimaksudkannya berisi ajaran silih asah, silih asih,  silih asuh dan silih wawangi. Ketika literasi hanya membaca dan menulis, lanjutnya, hal itu menjadikan cakupannya cuma pada konsep tatanan teoritis. Namun ketika dikatakan literasi budaya, hal itu berarti meliputi nilai-nilai filosofi yang harus teraplikasikan di dalam kehidupan para pelajar.

“Kalau bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, literasi budaya Sunda bisa mencegah terjadinya tawuran atau tindakan anarkis karena ada konsep silih asah, silih asih, dan silih asuh,” ujarnya.

Pada intinya literasi budaya itu mempraktikkan sendiri nilai-nilai filosofi yang terkandung pada cabang-cabang budaya Sunda. Anak-anak tidak hanya menonton gendang pencak, tetapi juga bisa membaca sejarah pencak silat dan menerapkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

“Kami telah membuat dan mengembangkan model untuk literasi budaya yang diterapkan kepada para santri dan siswa didik di pesantren dan sekolah kami,” tuturnya.  

Untuk itu Fajar mengimbau sekolah-sekolah mengimplementasikan literasi budaya. Dalam hal ini, para pelajar dilibatkan dalam praktik literasi budaya dan bisa tampil di event-event budaya. Momen kenaikan kelas di sekolah, misalnya, bisa dijadikan ajang untuk mengangkat literasi budaya dengan menampilkan kreasi para siswa, tidak harus dengan pertunjukan band atau organ tunggal.

“Agar para pelajar tidak akan  kehilangan jati dirinya sebagai orang Sunda, tampilkan atraksi seni tradisional Sunda pada momen kenaikan kelas seperti kemarin kami menampilkan berbagai kreasi budaya Sunda pada hari perpustakaan,” tutur dia. (*)