AMIR Menggalang Tanda Tangan Menolak ‘The Santri’

oleh -

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Aliansi Muslim Indonesia Raya (AMIR) menggelar aksi untuk menggalang tanda tangan dari warga Sukabumi untuk menolak film The Santri bertempat di Lapang Merdeka, Minggu (22/9/2019). Pada aksi itu, para pengurus dan kader AMIR membentangkan spanduk besar berukuran 20 x 1,5 meterpersegi untuk menampung tanda tangan warga.

Dalam aksinya, AMRI juga menyebarkan pamflet yang isinya rincian alasan menolak The Santri yangdisutradarai Livi Zheng tersebut. Beberapa warga dari berbagai kalangan beramai-ramai menorehkan tanda tangannya pada spanduk untuk mendukung ajakan AMIR.

“Pada aksi ini kami berhasil mengumpulkan 2.000 tanda tangan dari masyarakat Sukabumi,” kata Koordinator Penggalangan Tanda Tangan AMIR, Budhy Lesmana kepada wartawan seusai aksi.

Aksi AMIR berlangsung damai dari pagi hingga lewat pukul 09.00 WIB. Rencananya tanda tangan tersebut akan diserahkan kepada  MUI dan DPRD Kota Sukabumi. Nantinya organisasi para ulama dan para wakil rakyat itu yang meneruskan petisi warga Sukabumi kepada lembaga negara dan instansi terkait untuk ditindaklanjuti.

“Film The Santri tidak menggambarkan kehidupan santri di pesantren. Dalam kenyataannya, antara santriwan dan santriwati menjalani kehidupan secara terpisah. Di film ini santri laki-laki dan santri perempuan hidup berbaur seperti tidak ada sekat,” kata Budhy yang pernah mondok di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.  

Masyarakat yang mengisi waktu libur di Lapang Merdeka sebagian membubuhkan tanda tangan pada spanduk yang dibentangkan AMIR untuk menolak film ‘The Santri’.

Film The Santri juga berisi banyak adegan yang bertolak belakang dengan tradisi dan nilai-nilai luhur yang dianut pesantren. Ada adegan dua santri berlawanan jenis masuk ke dalam hutan. Mereka saling pandang. Adegan ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan kehidupan di pesantren selama ini.  

Pada adegan lain, dua santri perempuan masuk ke dalam gereja untuk memberikan tumpeng kepada pendeta. Mungkin saja, kata Budhy, maksud adegan ini untuk menggambarkan toleransi kehidupan antar umat beragama.

“Tapi jelas keliru karena dapat menyesatkan umat. Toleransi itu di wilayah sosial, bukan untuk akidah dan ibadah,” jelas Budhy. 

Pada film tersebut, lanjut dia, penulis skenario juga telah mengubah kiblat utama pendidikan pesantren ke negara liberal. Dalam The Santri, ada adegan sayembara untuk para santri dengan hadiah belajar dan sekolah di Amerika Serikat. Padahal, pada umumnya para santri memimpikan dapat belajar di Timur Tengah, Madinah, Libya, atau Turki.

“Saya dulu ngebet sekali ingin kuliah di Al-Azhar, Mesir. Di film ini, santri sekolah di Amerika. Film The Santri harus diupgrade dan diedit total. Kalau tidak, film ini harus ditolak sebelum diputar massal bulan depan,” tutur Budhy. (*)