RS Al-Mulk Sangat Membutuhkan Ruang Rawat Inap Tambahan

oleh -
Gedung RS Al-Mulk di Jalan Pelabuhan 2, Lembursitu Kota Sukabumi masih kekurangan ruangan rawat inap untuk menampung lonjakan pasien yang sering meningkat sewaktu-waktu.

Wartawan Fitra Yudi Saputra

RS Al-Mulk sangat membutuhkan ruang rawat inap tambahan untuk menampung pasien yang sering melonjak sewaktu-waktu. Ketika terjadi epidemi seperti wabah demam berdarah atau penyakit lainnya, rumah sakit milik Pemkot Sukabumi tersebut sering kekurangan ruangan untuk menampung pasien yang datang secara bergelombang.

“Kalau ada wabah, kami tidak dapat menampung pasien dan akhirnya harus memberikan rujukan ke rumah sakit lain. Jumlah ruang rawat inap di rumah sakit kami sangat kurang,” kata Kasubbag Tata Usaha RS Al-Mulk, Dede Ruswandi ketika ditemui di tempat kerjanya, Jalan Pelabuhan II, Lembursitu, Kota Sukabumi, Rabu (11/9/2019).

Karena itu, Dede merasa senang ketika mendengar informasi adanya rencana pembangunan ruang rawat inap di rumah sakit yang memberikan layanan gratis bagi warga Kota Sukabumi itu. Sayangnya, rencana tersebut batal karena pemerintah pusat tidak dapat mengucurkan sumber dananya yakni DAK fisik tahap I tahun 2019.

“Jelas sangat senang sekali da rencana membangun ruangan rawat inap tambahan karena kami sangat membutuhkannya. Bisa dilihat kapasitas ruang inap yang tersedia di rumah sakit kami masih kurang sekali,” tutur Dede.

Jumlah ruang rawat inap di RS Al-Mulk yang sebagian besar pasiennya berasal dari kalangan warga kurang mampu itu hanya empat ruangan. Fasilitas kesehatan tersebut dibagi-bagi menjadi ruang IGD, ruang ruang rawat anak, ruang rawat dewasa, dan ruang kebidanan.

“Daya tampung dari keseluruhan kamar rawat inap ada 55 bangsal atau tempat tidur. Kalau ada pasien lebih dari 55 orang, mereka harus dirujuk ke rumah sakit lain,” ujar Dede.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pembangunan ruang rawat inap di RS Al-Mulk dengan anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik tahap I sebesar Rp6.496.165.806 berantakan gara-gara terlambat dalam proses lelang. Atas gagalnya penyerapan dana miliaran tersebut, Wali Kota Sukabumi, H. Achmad Fahmi berjanji akan memerintahkan Inspektorat untuk melakukan pemeriksaan.

Jikapun pembangunan ruang rawat inap dilaksanakan, model bangunannya harus sistem bertingkat karena RS Al-Mulk belum memiliki lahan ekstra untuk menampung ruang tersebut. Menurut Dede, kemungkinan ruang tambahan dibangun secara vertikal hingga lantai 5.

Selama ini peran RS Al-Mulk sangat strategis dalam mendukung upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Bagi warga Kota Sukabumi, rumah sakit ini tidak memungut bayaran dengan syarat menunjukkan KTP Kota Sukabumi. Kehadiran RS Al-Mulk dapat mengurangi penumpukan pasien di RSUD R. Syamsudin, SH. Sebagai rumah sakit terbesar di wilayah Sukabumi. (*)