Ideologi Pancasila, Solusi Hentikan Ancaman Radikalisme

oleh -
Sekretaris Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Alan Barok Ulumudin menyampaikan pandangannya tentang peranan Pancasila dalam mencegah berkembangnya radikalisme dalam diskusi khusus di Majalengka. Tampak di sebelah kiri pembicara kedua, Ketua PWI Perwakilan Sukabumi, Jejep Jejep Falahulalam.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Ideologi Pancasila merupakan pandangan hidup yang dapat menghentikan ancama radikalisme. Selama ini Pancasila telah membuktikan keampuhannya sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia, selain Pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang harus dianut dan ditanamkan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Hal itu dikatakan Sekretaris Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Alan Barok Ulumudin dalam dialog bertema ‘Metamorfosis Gerakan Radikalisme Sebagai Ancaman Bangsa’ di Majalengka, Rabu (21/8/2019). Di Indonesia, kata Alan,  Pancasila dapat mendorong terwujudnya darul ahdi wa syahadah atau negara tempat anak bangsa melakukan konsensus nasional.

“Negara kita berdiri karena para pendiri sepakat bahwa Indonesia didirikan di atas segala kemajemukan,” ujar dia.

Pancasila juga dapat diandalkan sebagai solusi untuk menghentikan ancaman dari kelompok radikal. “Organisasinya bisa dibubarkan, akan tetapi ideologinya tetap berkembang. Kita semua harus mewaspadai ketika ada organisasi tanpa rumah. Tanamkan Pancasila sebagai ideologi untuk menahan laju berkembangnya paham radikalisme,” kata Alan. 

Mengenai munculnya radikalisme, lanjut Alan, akar persoalannya bermuara pada masalah ekonomi sosial dan ketidakadilan. Sejak masa reformasi, bermunculan kelompok atau gerakan semisal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai manifestasi kebebasan berekspresi.

“Reformasi telah membuka ruang bagi terbentuknya organisasi ekonomi, sosial, agama. Pemantiknya ketimpangan ekonomi dan sosial. Faktor lainnya penegakan supremasi hukum yang timpang,” jelas Alan.

Paham radikalisme juga berkembang di daerah-daerah. Di Majalengka, misalnya, meskipun tampak landai dalam arti tidak ada gejolak, bukan tidak mungkin sewaktu-waktu muncul gerakan yang menuju ke ke arah radikalisme. Dari informasi yang berkembang, ada beberapa warga Majalengka yang tertangkap di Jakarta terkait aksi 21-22 Mei lalu.

Pandangan senada disampaikan Ketua PWI Perwakilan Majalengka, Jejep Falahulalam yang juga menjadi pembicara pada diskusi tersebut. Para bapak pendiri bangsa, ujar Jejep, telah menyepakati Pancasila sebagai ideologi yang tidak bisa diganggu gugat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Para bapak bangsa juga sepakat UUD 1945 sebagai konstitusi negara dan NKRI sebagai bentuk negara yang sah,” tuturnya. 

Solusi untuk menghadapi menghambat berkembangnya penganut radikalisme adalah menumbuhkan kecintaan kepada ideologi Pancasila. Pemerintah di semua tingkatan, baik pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa/kelurahan harus bersama-sama mengupayakan hal itu.

Harus ditanamkan kepada generasi muda sebagai penerus bangsa pentingnya mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila. Masyarakat juga jangan mudah percaya pada informasi yang disebar oleh media yang tidak kredibel. Biasakanlah membaca berita dari media yang terpercaya atau media mainstream. (*)