Al-Fath Syukuran HUT RI dengan Merias Domba

oleh -
Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KHM. Fajar Laksana (tengah) dengan para santri dan masyarakat yang memeriahkan lomba domba hias dalam rangka ibadah kurban pada Idul Adha 1440 Hijriyah.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Keluarga besar Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath menggelar syukuran HUT ke-74 Kemerdekaan RI  dan Hari Raya Idul Adha dengan perlombaan merias domba dan fashion show domba. Melalui lomba tersebut, Pesantren Al-Fath memberikan kesempatan kepada para santri untuk merias dan menghias 20 ekor domba yang dipotong untuk ibadah Idul Adha. 

Ditemui wartawan di lokasi lomba, Sabtu (10/8/2019), Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KHM. Fajar Laksana mengatakan,  kegiatan tersebut merupakan  bagian dari kreativitas para santri dalam memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekan RI  dan juga mengekspresikan kebahagiaan dalam menyambut Idul Adha.

“Baru pertama kali,  domba yang akan dijadikan hewan kurban diberi hiasan dan dandanan sebelum dipotong besok (hari ini, red). Para peserta lomba berasal dari santri yang mewakili sekolahnya masing-masing mulai dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi,” kata Fajar. 

Salah satu peserta yang ikut merias domba adalah Julien, asal Negeri Belanda. Julien berada di Pesantren Al-Fath sedang mendalami ilmu dan jurus silat. Dia tampak bersemangat ketika menempelkan pernak-pernik hiasan pada domba yang dihiasnya.  

Dikatakan Fajar, kegiatan tersebut akan dijadikan tradisi tahunan di pesantren yang dipimpinnya. Dia yakin, lomba menghias domba kurban itu memiliki daya tarik bagi masyarakat Kota Sukabumi dan wistawan. Sebelum acara digelar, para santri aktif mensosialisasikannya lewat media sosial.

“Masyarakat senang sekali melihat hasil kreativitas para santri,” tuturnya.

Peserta yang menjadi juara menerima piala bergilir dari Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath dan bingkisan tanda mata.

Selain lomba hias dan fashion domba, dalam rangka Idul Adha, kegiatan lain yang digelar Pesantren Al-Fath adalah membuat sate terpanjang dengan proyeksi 100 meter di halaman pesantren tersebut. 

“Daging domba yang dikurbankan sebagian diberikan kepada masyarakat sekitar dan warga tidak mampu. Kami juga membuat sate terpanjang yang akan dinikmati oleh para santri,  masyarakat, dan undangan dengan harapan dapat meraih berkah,” ungkap Fajar. (*)