Ketersediaan Air Bersih di Kampung Tugu Masih Aman

oleh -
Tim dari Kantor Kecamatan Caringin dan Desa Caringin Wetan berkunjung ke Kampung Tugu untuk mengecek kebenaran laporan krisis air bersih. Tampak pada gambar Kasi Kesosbud Kantor Kecamatan Caringin, Nisfu Syaban (kedua dari kanan); Staf Desa Caringin Wetan, Yudi Gunawan (ketiga dari kanan), P2BK Caringin Feriyatman Sobar (ketiga dari kiri), dan Staf Kesosbud, Euis Rojanah (paling kiri).

Wartawan Usep Mulyana

Desas-desus terjadinya krisis air bersih di Kampung Tugu RT 01 RW 04 Desa Caringin Wetan, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi tidak terbukti. Kabar angin tersebut hanya isapan jempol yang disebar di media sosial, faktanya ketersediaan air bersih di Kampung Tugu tetap aman.

“Saya membaca di media sosial Facebook bahwa  di Kampung Tugu terjadi krisis air bersih. Setelah saya cek langsung ke lapangan hari ini, informasi di Facebook itu hoax,” kata Kepala Seksi Kesejahtraan Sosial dan Budaya (Kesosbud) Kantor Kecamatan Caringin, Nisfu Syaban saat meninjau langsung  ke Kampung Tugu, Selasa (25/6/2019).

Hal yang sebenarnya terjadi, ujar Nisfu, warga hanya mengalami kelangkaan air untuk kebutuhan MCK. Kalau untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga seperti makan dan minum, persediaan air bersih masih mencukupi, aman, dan terkendali. Terkait kondisi dan musim kemarau seperti sekarang, dia mengimbau warga untuk  berhemat dalam menggunakan air.

Di tempat yang sama, Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Caringin, Feriyatman Sobar meyampaikan solusi bagi Kampung Tugu agar tidak mengalami krisis air bersih. Berdasarkan penelitian dan kajian terhadap kondisi di lapangan, Sobar mengusulkan pembangunan sumur bor di Kampung Tugu untuk mencegah terjadinya krisis air bersih.  

“Kalau tanahnya gembur seperti ini, di sini cocok dibuat sumur. Airnya pasti melimpah,” ujar dia.

Sementara itu Staf Desa Caringin Wetan, Yudi Gunawan  yang turut mendampingi tim di lokasi mengimbau warga untuk mendayagunakan bangunan sarana MCK yang lama tidak terpakai untuk sarana penampungan air.

“Kita simpan penampungan air di tempat itu sebagai titik bagi. Setelah itu, warga manyalurkan air tersebut ke rumah masing-masing. Menurut saya itu lebih efektif dan biayanya jauh lebih murah,” kata Yudi.

Engkos, warga yang terdampak kekurangan air di Kampung Tugu mengatakan, sudah satu bulan ini dia harus mengambil air bersih dari sumber air yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Dia harus bergantian dengan warga lain untuk memperoleh air bersih.

“Kalau bisa, kami mohon kepada pemerintah untuk membuatkan tempat penampungan air yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami,” ujarnya. (*)