Budayawan Jabar Bahas Kiat Peneguhan Kebangsaan di Kampus IAID Ciamis

oleh -
Suasana kegiatan halal bi halal kebangsaan di Kampus IAID Ciamis dengan narasumber budayawan, kepolisian, pemerintahan, dan civitas academica IAID.

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Budayawan Jawa Barat, H. Nurhadi menawarkan konsep sikap dan upaya untuk peneguhan dan pengokohan kebangsaan. Keempat sikap yang disebut Nurhadi itu terdiri dari penanaman sikap berbuat baik semata karena Allah; memberikan yang terbaik untuk orang lain; menghindari sikap egois, anarkis individualistis atau antipati sosial; dan mempercayai bahwa orang lain juga bisa bersikap seperti kita.

Pemikiran Nurhadi itu disampaikan pada forum Halal Bi Halal Kebangsaan di Kampus Institut Agama Islam Darussalam (IAID), Jalan KH. Ahmad Fadlil l2, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Senin (24/6/2019). Pada acara itu, Nurhadi tampil sebagai pembicara bersama sejumlah tokoh agama, unsur Polri,  dan pejabat daerah di Ciamis. Fokus pembahasan halal bi halal bermuara pada upaya meneguhkan kembali kebangsaan seusai Pemilu 2019.

“Jika semua anak bangsa bisa menampilkan sikap seperti itu, kita dapat mewujudkan empat ciri kemakmuran negeri yaitu  aman, damai, sejahtera, dan selalu berada dalam ridho Allah SWT,” kata Nurhadi.

Halal Bi Halal Kebangsaaan diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAID dan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M). Jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 100 orang. Kegiatan tersebut mengambil tema “Meneguhkan Kebangsaan dalam Menjalin Harmonisasi Ukhuwah Umat, Berbangsa, Bernegara”. 

Nurhadi juga mengupas kiat-kiat merajut ukhuwah umat yang dirumuskan dalam langkah-langkah harmonisasi kebangsaan melalui tawasuth, tawazun, dan tasamuh; dinamisasi umat; ritmisasi masalah umat; dan melodisasi tatanan umat. Dari semua langkah yang dilakukan itu, ujar Nurhadi, tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki dengan hati yang selalu bisa mensyukuri nikmat dari Allah SWT.

Di antara tokoh dan pejabat kampus dan pemda yang hadir pada acara tersebut tampak antara lain Ahmad Nabil Atoilah S.Th., M.Hum (Warek IAID Bid. SDM), Dr. Sumadi, M.Ag (Dekan Fakultas Syariah/Biro Kemahasiswaan IAID Ciamis), H. Andang Firman (Kepala Kesbangpol Kabupaten Ciamis), AKP Roesdiana (Kapolsek Cijeungjing), Kapten Endang Lili (Danranil Cijeungjing),  Jamaludin (BEM Unigal),  Nurhayati (STAI PGC), Aceng Yaser (STEI Ar-Risalah,), Ryan (Karangtaruna Desa Dewasari, dan Arul (PWI Ciamis), Cucu (HMI Syariah). 

Ketua BEM IAID Ciamis, Ilham Nur Suryana dalam sambutannya mengatakan, halal bi halal merupakan budaya asli Indonesia yang pertama kali dilakukan oleh KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa. Kegiatan ini perlu dilestarikan  sebagai refleksi budaya yang dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan.

“Awalnya tidak dikenal istilah halal bihalal. Istilah ini muncul  setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1948, para pemimpin yang saat itu selalu berbeda pendapat duduk dalam satu meja agar kesalahan-kesalahan mereka dimaafkan atau dihalalkan. Sejak itu, muncul istilah halal bi halal,” jelas Ilham.

Dalam ceramahnya,  Ahmad Nabil Atoilah S.Th., M.Hum. sebagai salah satu unsur pimpinan IAID Darussalam mengajak seluruh komponen anak bangsa  untuk membangun rekonsiliasi. Lupakan perpecahan waktu Pemilu, kata dia, saatnya bangsa Indonesia saling merangkul dan memaafkan satu sama lain. 

Sementara Kapolres Ciamis yang diwakili  AKP Roesdiana menyampaikan, beda pilihan dalam Pemilu hendaknya menjadi permusuhan atau perpecahan. Pemilu sudah lewat, dia mengajak hadirin untuk melanjutkan  habluminannas dan siap mempertahankan NKRI.  Dia mengharapkan segera terwujudnya rekonsiliasi secara menyeluruh di wilayah Ciamis. (*)