Penderita Kanker Rahang Menunggu Uluran Tangan Kaum Aghniya

oleh -
Akibat kanker rahang yang menyerang tubuhnya, Aep tergolek lemas di ruangan perawatan di RSUD Sekarwangi Cibadak. Seorang pengurus masjid di Cibadak tampak memanjatkan doa untuk kesehatan dan kepulihan Aep.

Wartawan Nana Suhendar Al-Alawi

Penderita kanker rahang, Aep warga Kampung Manglid RT 05 RW 07, Desa/Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi menunggu uluran tangan kaum kaya dan dermawan. Kini Aep terbaring lesu di ruang perawatan RSUD Sekarwangi, Cibadak sambil menahan rasa sakit di sekitar lehernya akibat digerogori kanker.  

“Kami tidak mempunyai dana untuk membayar biaya perawatan suami saya sampai sembuh sebab tidak memiliki penghasilan tetap. Keluarga kami mengharapkan ada dermawan yang membantu keluarga kami,” kata Iis, istri Aep ketika ditemui di RSUD R. Syamsudin, S.H., Jumat (17/5/2019) malam.

Beban keluarga Aep dan Iis memang makin berat. Pasangan suami istri ini harus membiayai bahtera rumah tangga dengan keempat anaknya. Apalagi sejak beberapa bulan yang lalu, Aep sebagai tulang punggung keluarga tidak bisa bekerja sebagai buruh harian lepas untuk menafkahi istri dan anaknya.

“Sejak suami sakit dan tidak bisa ke mana-mana, sayalah yang bekerja untuk menghidupi keluarga. Kerja apa saja yang penting halal dan bisa memberi makan suami dan anak-anak saya,” tutur Iis.

Saat ini, satu-satunya harapan Iis untuk melanjutkan pengobatan suaminya adalah bantuan dari para dermawan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran yang kecil-kecil, dia mendapatkan bantuan materi dari para tentangga yang semuanya baik hati.

Akibat penyakit kanker gans yang menyerang tubuhnya, Aep mengalami luka yang menganga di pangkal leher kirinya. Luka ini membentuk lubang yang menimbulkan rasa sakit tak terperikan bagi Aep. Tubuhnya lemas, dia hanya bisa berbaring tanpa daya.

Beberapa bulan yang lalu, Aep pernah menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi. Karena tidak memiliki kartu Jaminan Kesehatan Nasional dari BPJS, Aep harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk biaya pengobatan dan perawatan. Karena keterbatasan ekonomi, akhirnya keluarga membawa pulang Aep untuk dirawat di rumah.

Namun, dari waktu ke waktu, kondisi Aep semakin mengkhawatirkan. Kankernya semakin menjadi-jadi. Maka pada Jumat (17/5/219), keluarga dan para tetangga bersepakat untuk membawa Aep ke rumah sakit.

“Alhmdulillah sekarang memakai kartu BPJS. Ada orang baik yang membantu kami membuatkan kartu BPJS. Tapi beban ekonomi kami tetap berat,” ungkap Iis. (*)