Polisi Tetapkan Dua Tersangka Perang Sarung

oleh -
Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Susatyo Purnomo Condro memperlihatkan barang bukti dari aksi perang sarung pada konferensi pers di depan Mapolres Sukabumi Kota. Tampak hadir pada konferensi pers itu antara lain Wakil Wali Kota Sukabumi, H. Andri Setiawan Hamami (kedua dari kanan) dan Kasdim 0607, Mayor Inf. R. Khoirul (paling kiri).

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Jajaran Polres Sukabumi Kota dalam mengantisipasi  terjadinya gangguan kamtibmas selama bulan Ramadhan menggelar Operasi Suci Ramadhan di 15 titik. Dari operasi tersebut, polisi memergoki kelompok orang yang sedang terlibat perang sarung.

Di beberapa lokasi, tim operasi berhasil mencegah dan membubarkan benturan antar kelompok warga yang akan menggelar perang sarung. Tim Operasi Suci Ramadhan juga mengamankan berbagai benda yang digunakan dalam tawuran tersebut.  

“Dari tawuran perang sarung, kami menangkap dua orang yang telah ditetapkan menjadi tersangka,” kata Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Susatyo Purnomo Condro kepada awak media dalam konferensi pers di depan Mapolres Sukabumi Kota, Kamis (16/5/2019).

Perang sarung, ujar Kapolres, akhir-akhir ini menjadi atensi jajarannya karena berpotensi menimbulkan korban luka-luka, bahkan korban jiwa. Para pelakunya memasukkan benda-benda keras seperti batu dan gir motor pada sarung yang digunakan untuk memukul lawan.

“Biasanya perang sarung terjadi setelah shalat tarawih di atas pukul 9 malam sampai menjelang sahur. Untuk mencegah terjadinya perang sarung, kami melakukan langkah antisipasi di 15 titik tersebut,” kata AKBP Susatyo.

Pada perang sarung di Kampung Karangtengah, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, seorang anak di bawah umur kena hantam benda keras sehingga mengalami luka. Perang sarung juga meletus di Jalan Benteng Tengah, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong dan titik-titik lainnya.  

Selain anak di bawah umur yang menjadi korban, seorang remaja lainnya mengalami luka pada kepalanya. Menurut Susatyo, perang sarung dipicu persaingan antarkelompok yang dilatarbelakangi motif untuk mengaktualisasikan diri dan ingin menunjukkan kehebatan kelompoknya.  

“Beberapa pelaku perang sarung berasal dari kalangan anak di bawah umur. Sebagian besar usia remaja. Kami akan terus berkoordinasi dengan RT, RW, lurah, dan tokoh masyarakat untuk mencegah tawuran para remaja tersebut,” ujar Kapolres.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan, perang sarung diawali dengan tantangan melalui media sosial. Jajarannya akan mendalami penggunaan media sosial untuk ajakan perang sarung dari satu kelompok ke kelompok lainnya. (*)