Tabayun, Prinsip Islam dalam Menyelesaikan Masalah

oleh -
KH. Muhammad Kusoy

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Sekretaris MUI Kota Sukabumi, KH. Muhammad Kusoy mengajak umat Islam di Kota Sukabumi untuk menggunakan cara-cara tabayun dalam menyelesaikan masalah. Dia kurang sepakat dengan gerakan people power karena hal itu artinya upaya mengerahkan massa untuk menggulingkan pemerintah yang sah. 

“Ajaran Islam lebih mengutamakan musyawarah, kalaupun ada kecurangan atau perbedaan dan kesalahan orang lain, penyelesaiannya harus dilakukan dengan pendekatan tabayun atau meminta penjelasan,” kata Kusoy di Sekretariat MUI Kota Sukabumi, Pusat Kajian Islam Sukabumi, Selasa (14/5/2019).

Tabayun, ujar dia, lebih baik dibandingkan people power yang akhir-akhir ini menjadi berita utama di media massa dan viral di media sosial. Apabila dalam Pilpres diduga terjadi kecurangan, kata Kusoy, pihak yang dirugikan dapat menyelesaikannya melalui mekanisme hukum ke lembaga berwenang. Itu juga salah bentuk tabayun melalui prosedur pemerintahan.

“Pandangan saya ini pandangan pribadi sebagai pengurus MUI Kota Sukabumi, tidak atas  nama MUI Kota Sukabumi sebagi lembaga. Dengan tabayun, kita berupaya untuk menjaga persatuan dan tegaknya NKRI,” tutur Kusoy.

Pada dasarnya, dia tidak menolak  pengerahan massa untuk memprotes kecurangan dalam pemilu. Karena gerakan seperti itu merupakan bagian dari demokrasi. Yang penting gerakan tersebut tidak mengarah pada upaya menggulingkan pemerintah yang sah. 

“Namun segala permasalahan sebaiknya diselesaikan dengan cara yang sebaik-baiknya, salah satunya musyawarah untuk menempuh cara tabayun,” tambahnya. 

Tidak ada yang sulit dari mekanisme tabayun untuk menyelesaikan suatu perkara, termasuk yang muskil sekalipun. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang harus menjadi rahmatan lil alamin bagi umat manusia. Dalam menuntaskan permasalahan, umat Islam mesti mengedepankan akhlakul karimah.

Pada bagian lain Kusoy mengajak umat Islam di Kota Sukabumi untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Di bulan suci Ramadhan ini, umat Islam harus pandai-pandai menjaga ucapan. Karena itu, segala bentuk caci maki kepada orang lain harus dihentikan. (*)